Senin, 09 April 2012

Paus Benedict XVI Ingatkan Kemajuan Teknologi Bukan Segalanya

Pesan Paskah 2012
Paus Ingatkan Kemajuan Teknologi Bukan Segalanya


Minggu, 8 April 2012 | 18:35

[VATIKAN] Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Paus Benediktus XVI di Basilika St Petrus di Vatikan, Roma, dalam pesan paskahnya menegaskan bahwa kehidupan manusia melangkah di dalam gelap.

Paus Benediktus XVI mengingatkan umat Kristiani agar tidak kehilangan kemampuan untuk membedakan antara baik dan jahat.

“Hidup lebih kuat daripada kematian. Kebaikan lebih kuat daripada kejahatan. Cinta kasih lebih kuat daripada kebencian. Kebenaran lebih kuat daripada kebohongan,” kata Sri Paus. Lebih lanjut kepala tertinggi Gereja Katolik itu juga menyampaikan sikap kritisnya terkait kemajuan teknologi.

"Penggelapan Tuhan dan norma-norma adalah ancaman sebenarnya eksistensi kita dan seluruh dunia. Selama manusia tidak dapat membedakan antara baik dan jahat, semua kemajuan teknologi tetap menjadi ancaman bagi dunia. Pencerahan yang sebenarnya bukan berasal dari kemajuan teknologi, melainkan hanya dari kepercayaan yang ditunjukkan cahaya Tuhan kepada manusia,“ kata Benediktus XVI.

Pada misa malam Paskah Sabtu (7/2), lebih dari 10.000 orang berkumpul di Basilika Santo Petrus di tengah Kota Vatikan. Misa Paskah itu sesuai tradisi dimulai dengan keadaan gelap gulita.

Diiringi lagu-lagu rohani kemudian dinyalakan lilin Paskah, dan kemudian diteruskan kepada umat Kristiani lainnya, sampai seluruh gereja diterangi cahaya.

Puncak rangkaian perayaan Paskah adalah misa di Basilika Santo Petrus Minggu (8/4). Sesuai tradisi, puluhan ribu umat Kristiani dari seluruh dunia menghadiri misa paskah tersebut, yang ditutup dengan pemberian berkat dari Sri Paus “Urbi et Orbi”. Yang berarti berkat dari kota ke seluruh dunia.
[DW/L-8]

Bagaimana membentuk OMK dan Pendamping OMK yang Ideal?

Sebuah Pemikiran untuk Para Pembina OMK
 1.      Pengantar
Orang Muda Katolik (OMK) Indonesia sebagaimana orang muda pada umumnya ialah penentu masa depan. Gelora semangat orang muda menjadikan orang  yang tidak muda lagi, memiliki berpengharapan. Jika Gereja dan bangsa memiliki orang muda yang bersemangat, penuh kasih, bertanggung jawab, berwatak luhur, beriman, maka sebagian besar dari kita tentu sepakat bahwa kita memiliki masa depan yang cerah, bahwa Gereja kita bukan calon museum belaka, dan bangsa kita bukan calon negara gagal. Tanggungjawab kita-lah untuk menentukan masa depan itu, sebagaimana kita dididik oleh para pendahulu kita sampai menjadi seperti sekarang ini. OMK memerlukan bimbingan dari para pendamping.  Para pembina OMK mesti mewujudkan syukur  atas pendidikan yang mereka terima dengan ikut bertanggungjawab mendidik orang muda demi masa depan. Maka kita mesti mengenal ciri pokok orang muda, dan mengenal apa kompetensi menjadi pendamping OMK.
2.      Tiga Ciri Orang Muda: Jati Diri, Ketidakpastian, Hubungan-Hubungan
Jati Diri: OMK dipanggil untuk menjadi dirinya sendiri – yaitu menjadi  diri sendiri seperti yang dikehendaki Tuhan.  Hanya dengan mengetahui jati dirinya sesuai yang dikehendaki Tuhan, maka OMK bisa membangun dunia dan handal. Meminjam kata-kata Santa Katharina dari Siena (1347-1380), “Be who God meant you to be and you will set the world on fire”.
Namun, orang muda masa kini, tak terkecuali di tempat kita, sedang mengalami ketimpangan biologis-psikososial.   Kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan dan pelatihan telah memperpanjang masa muda mereka, dan menunda masa “mentas” mereka. Di alam pedesaan tradisional pemuda dinyatakan lulus dari remaja ke dewasa dengan pernikahan dini. Sekarang orangtua diharapkan untuk merawat orang dewasa muda  lebih lama lagi. Sementara itu perbaikan diet dan kondisi lingkungan yang lebih baik telah mengakibatkan pubertas awal. Jadi, anak-anak secara biologis siap untuk menikah lebih awal daripada di masa lalu, namun kini mereka harus menunda pernikahan karena alasan psikososial. Ada ketimpangan antara perkembangan biologis yang lebih cepat dan kematangan psikososial yang lebih lambat. Pengenalan Jati diri menjadi makin susah dalam situasi ini.

Ketidakpastian: Dari sisi sosio-ekonomi,  Umat Katolik Indonesia terbagi menjadi dua: sekitar separuh menikmati kesejahteraan yang membuat mereka gampang meraih apa yang mereka inginkan, dan separuh masih berjuang untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.  Bagi Orang Muda Katolik (OMK) dari kalangan kaum beruntung, sering ada beberapa pilihan pekerjaan yang bermanfaat bagi mereka. Bagi OMK yang dari kalangan kurang beruntung, hampir tidak ada pilihan sama sekali. Setengah pengangguran atau pindah-pindah kerja (bekerja tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari) mengalami peningkatan jumlah. Bagi kebanyakan OMK, wajah mereka menampakkan ketidakpastian masa depan.
Hubungan-Hubungan: Sementara OMK masih bergulat dengan jati diri yang tak kunjung jelas, dan berjuang mendapatkan pekerjaan, maka OMK harus belajar membangun relasi antar-pribadi dalam keluarga, teman sebaya dan menemukan jodoh atau panggilan hidup (mau pacaran dan menikah, atau melajang, atau selibat demi Kerajaan Allah?). Suatu relasi-relasi yang membelit mereka dan bisa membingungkan jika tidak didampingi secara bijaksana. Mereka membutuhkan relasi yang bermakna, bukan hanya “just for fun” maupun main-main.
3.      Dunia Kita
OMK, seperti sebagian dari kita juga, hidup dalam beberapa dunia. Tidak aneh, karena kita ini multidimensional. Sekularisasi yang baik membawa di dalamnya cara pandang buruk sekularistik: penyembahan dewa-dewi ilmu pengetahuan (idols of science), teknologi dan kemajuan wahana elektronika, pengejaran tiada henti atas pertumbuhan ekonomi, agama konsumeristis dengan “katedral-katedral shopping mall”, proses peningkatan budaya, bukan saja gaya hidup impor dan perilaku, atau jeans dan KFC yang tampak fisik, namun juga penerimaan tanpa sadar atas nilai-nilai konsumeristis dalam budaya instan dan budaya “klik copy-paste”.

Sekarang, giliran kita berpikir. Bagaikan permainan bola sodok, manakah bola putih  yang ketika kita sodok, maka akan mengenai bola-bola lainnya? Manakah yang pertama-tama kita bidik, agar OMK bisa memecahkan aneka masalah mereka sekaligus membuat mereka beranjak dewasa?  Saya setuju dengan pandangan bahwa semua persoalan mesti kita dekati mula-mula dengan Spiritualitas. Namun spiritualitas yang mana? Tentu saja Spiritualitas Katolik/Kristiani, dengan mengindahkan spiritualitas lokal kita yang khas sebagai bangsa Indonesia atau Asia Tenggara, atau khas Asia. Karena Yesus orang Asia dan para nabi pun tiada beda dengan-Nya, ialah orang Asia.
4.      Spiritualitas Dialog

Gereja mengharapkan OMK tangguh imannya dan tanggap –peduli terhadap keprihatinan masyarakat. ”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan warga masyarakat khususnya yang miskin dan menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan OMK pula ” (bdk GS 1). Jika kunci yang bisa membuka pembinaan OMK ialah spiritualitas, maka spiritualitas dialog merupakan jalan utama menuju pembinaan OMK di berbagai pembinaan.
Sekarang, dialog merupakan cara satu-satunya bagi perdamaian dan bahkan bagi pembentukan karakter manusia. Karena itu, dengan memperhatikan ciri-ciri dan konteks di atas, kita hendaknya mengembangkan spiritualitas dialog sebagai dasar dari pembinaan OMK.
5.      Jago Kandang Saja ?
Ada ungkaan mengatakan: ”OMK itu jago kandang saja. Beraninya berkokok di kandang sendiri seperti ayam jantan kate, tidak berani bergaul dengan kelompok di luar kelompoknya sendiri.” Benarkah? Ada benarnya walaupun tidak sepenuhnya. Jika demikian, prinsip-prinsip kaderisasi macam apa yang dibutuhkan untuk menjawab harapan OMK yang beriman mendalam dan tangguh serta berani terlibat dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia yang plural ini?
Saya menawarkan spiritualitas dialog sebagai landasan kaderisasi. Spiritualitas yang pada dasarnya tidak asing bagi OMK, yaitu yang mengalir dari dialog Allah sendiri dengan manusia, melalui Yesus Kristus Putera-Nya dalam Roh Kudus. OMK sendiri harus mengalami hidup nyata yang dibimbing oleh-Nya, mengalami Allah dalam kehidupan. Mereka mesti diajak refleksi untuk menemukan makna iman atau nilai kehidupan tertentu dalam peristiwa dan perjumpaan dengan sesama yang beraneka ragam.
Setelah prinsip dasar spiritualitas, barulah menyusul aneka kemampuan lainnya untuk diberikan dalam kursus kaderisasi. Namun demikian, kaderisasi sejati bukan pada kursus kaderisasi yang hanya empat-lima hari atau satu minggu atau satu bulan. Tidak demikian. Kaderisasi sejati ada dalam pendampingan OMK terus menerus sampai mereka mentas. Biarkan mereka mengalami sendiri dinamika hidup itu, kemudian didampingi dengan mengajak mereka merefleksikan pengalaman dalam Tuhan, lalu beraksi kembali dan seterusnya. Inilah prinsip ”see-judge-act” yang menjadi pokok pendampingan dan kaderisasi. Sebenarnya, inti kaderisasi sederhana saja, yaitu penemuan jatidiri yang dikasihi dan dikehendaki Allah untuk berbuat nyata dalam kehidupan yaitu mau berdialog dengan realitas kemiskinan, dialog dengan realitas budaya-budaya dan dialog dengan agama-agama. Intinya, OMK yang berbuat kebaikan konkret.
6.      Pendamping yang Tangguh

Di balik sosok OMK yang tangguh dan berkiprah dalam masyarakat, ada pendamping yang tangguh pula. Tak mungkin seorang pemain sepakbola berprestasi tanpa seorang pelatih yang bertangan dingin dan berpengalaman. Maka yang diperlukan sekarang ialah para pendamping yang sadar akan jati dirinya sebagai pendamping, mengalami kasih Allah sendiri dan mengasihi OMK. Justru sekarang, fokus kami Komisi Kepemudan KWI ialah para pendamping yang kami cita-citakan: memiliki pengalaman rohani yang dalam, mau belajar mengembangkan diri, memiliki hati dan cinta yang besar untuk OMK yang didampingi, serta menjadi teladan dalam menggereja dan memasyarakat. Para pendamping itu pertama-tama ialah orangtua dalam keluarga. Berikutnya ialah para pendamping yang ditugasi oleh paroki serta keuskupan. Sedangkan kami membantu melengkapi dengan pendidikan para pendamping di tingkat regio dan keuskupan.
7.      Kemampuan Pembina: 
Penggerak (Animator), Pendamping (Chaplain), Pembina/Pemimpin (Leader)
a.      Penggerak (Animator)
Kemampuan yang dituntut dari seorang penggerak adalah:
a.      Kepribadian: mengenal diri (kecenderungan psikologis, seksual-hormonal, sosial-budaya sekitar); daya empati-simpati; daya juang, ingin lebih maju/ menanggapi secara positif.
b.      Hidup Rohani: punya kemauan untuk makin mengenal Kristus dlm GerejaNya (keinginan menggeluti Kitab Suci, Sakramen, pernah mengerti dokumen Gereja dan beberapa kutipan penting).
c.       Hidup Intelektual: keingintahuan (indikasi: membaca, menulis). Menguasai bidang minat tertentu..
d.      Berminat pada Pergaulan – Budaya – Kesenian – dan Badan yg sehat
e.      Memiliki (dan dimiliki oleh) sebuah Komunitas
f.        KETRAMPILAN :
§         memimpin animasi (gerak-lagu) bahkan secara spontan.
§         memimpin pertemuan terbatas, misalnya 10-20 orang
§         memimpin doa bersama dan ibadat sabda ringkas

b.      Pendamping (Chaplain)
Memiliki Kemampuan Dasar Penggerak ditambah beberapa hal berikut ini:
a.      Kepribadian: Daya Tahan (asertif), terbuka terhadap perkembangan, memiliki penguasaan diri secara emosional.
b.      Rohani: Mulai mengalami kedalaman relasi dengan Kristus dalam Gereja-Nya
c.       Penghubung antar komunitas
d.      Ketrampilan memotivasi agar yang didampingi berani maju / Public appearance meyakinkan.
c.       Pembina/Pemimpin (Leader)
Memiliki kemampuan Penggerak + Pendamping  ditambah hal-hal berikut ini:
a.      Kepribadian: Daya ubah dari dalam (transformatif) menuju keadaan rendah hati.
b.      Rohani: Kemampuan menangkap rahmat untuk tetap tinggal bersama Kristus dalam GerejaNya pada situasi tekanan, kesimpangsiuran,  maupun kesepian rohani yang akut. Mulai menjadi pesan Injil, bukan hanya penyampai pesan Injil. Menjadi tanda harapan. Berserah, semua untuk Tuhan saja. Demi makin besarnya kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa OMK (bdk. St Ignatius Loyola, ”Latihan Rohani”no 23, azas dan dasar), yang bisa diartikan demi makin besarnya  OMK yg kupimpin.
c.       Intelektual: Visioner dan memiliki kebijaksanaan.
8.      Penutup
Sebagai pembina OMK, kita di tingkat mana? Semoga Pembina OMK mendampingi Orang Muda Indonesia, bersemangat dan terampil menyambut estafet kepemimpinan dan pembudayaan Gereja Katolik dan bangsa Indonesia sekarang dan ke depan.

Jakarta, Februari 2012
(Penulis: Yohanes Dwi Harsanto Pr, Imam Keuskupan Agung Semarang, saat teks ini diunggah masih bertugas sebagai Sekretaris Eksekutif  Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia/KWI. Teks ini diolah ulang dari teks sama yang dimuat di Majalah ”Inspirasi” bulan Oktober 2011. Pemikiran ini diilhami oleh tantangan Dr John Manford Prior SVD, dalam makalah untuk FABC Office of Laity and Family Southeast Asia 2 Consultation Meeting on Youth: “ Youth and Asian Spirituality” Juni 2011)

Minggu, 08 April 2012

Ribuan Umat Hadiri Perayaan Pekan Suci di Wehea

Paskah di Wehea
Pekan Suci bagi umat Katholik diseluruh dunia merupakan pekan yang sangat ditunggu. Sebuah perayaan sebagai peringatan akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus menjadi dasar dari perayaan itu sendiri, termasuk berbagai persiapan untuk menyambut pekan suci tersebut.
Hal tersebut juga terjadi di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, yang terletak di wilayah Wehea, Kalimantan Timur.
Sejak menjelang Minggu Palma, pihak panitia perayaan dengan dibantu oleh umat dari beberapa stasi telah melakukan beragam persiapan, mulai dari penyiapan daun palma, tempat perarakannya, areal parkir, penambahan tenda, serta dekorasi gereja.
Misa perarakan pada minggu palma dimulai dari Lapangan Pemuda Nehas Liah Bing, yang berjarak sekitar 150 meter dari Gereja. Ribuan umat dari berbagai stasi larut dan khusyuk dalam perayaan tersebut. Sebuah peringatan akan masuknya Yesus ke Kota Yerusalem, menjadi perlambang datangnya tri hari suci bagi umat Katholik.
Sementara itu, pada perayaan Misa Kudus memperingati malam perjamuan akhir pada Kamis Putih, ribuan umat tetap memadati Gereja St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Umat yang datang dari berbagai stasi juga memenuhi beberapa rumah penduduk dan tidak kembali ke stasi mereka karena letaknya yang cukup jauh dan pasca Kamis Putih, perayaan dilanjutkan pada hari jumat, dengan melakukan jalan salib bersama, yang diawali dari Gereja Santa Maria Ratu Damai ke puncak bukit di bagian hulu kampung Nehas Liah Bing.
Pagi yang cerah dan berubah terik di siang harinya tidak menyurutkan langkah bagi ratusan umat yang mengikuti ibadah jalan salib tersebut.
Tepat pada pukul 3 sore, Misa Jumat Agung pun dimulai. Gereja yang hanya mampu menampung beberapa ratus umat, seakan tidak mampu menampung ribuan umat yang memenuhi Gereja hingga ke jalan raya serta halaman SDN 002 Nehas Liah Bing.
Diperkirakan, lebih dari 3.000 ribu lebih umat dari 18 stasi bersatu dalam doa khusuk memperingati wafatnya Yesus Kristus sang penebus dunia dan Misa Jumat Agung tetap berjalan tertib.
Haleluyah, Kristus telah bangkit. Tepat pukul 6 sore pada hari Sabtu (7/4/12), umat kembali memadati Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, untuk mengikuti ibadah meriah menyambut Kebangkitan Kristus dan kemudian berlanjut pada Minggu (8/4/12).
Dengan segala keterbatasan, terutama kapasitas gereja yang sangat kecil, serta jarak yang cukup jauh, terutama untuk beberapa stasi seperti stasi Batu Ampar (150 km), stasi Sungai Elang (80 km), stasi Miau Baru (30 km) dan Long Segar (50 km), serta stasi Astra (35 km) ternyata tidak menyurutkan langkah mereka untuk bergabung bersama umat yang berada di sekitar paroki, untuk memperingati pekan suci di Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.
Syukur kepada Tuhan atas segala penyertaan-Nya, sehingga semua prosesi ibadat selama Pekan Suci dapat berjalan lancar, dan juga terima kasih kepada seluruh panitia serta semua pihak yang telah membantu kelancaran ibadat selama pekan suci 2012....
Selamat Pesta Paskah, semoga Rahmat dan Kebangkitan Yesus menjadi kekuatan bagi kita semua untuk mewartakan Kasih-Nya bagi sesama dan dunia....

Sabtu, 18 Februari 2012

Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga?

Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga?

Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

Sumber: katolisitas.org


Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaahDocetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.
Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.
Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.

Wehea_Arti Sebuah Nama

Dalam beberapa tulisan dalam blog ini, kami selalu menuliskan nama Kecamatan Muara Wahau sebagai Kecamatan Muara Wehea.

Benarkah nama tersebut? Demikian sebuah pertanyaan yang muncul dan disampaikan kepada admin blog ini. 
Mencoba untuk menukil sebuah pepatah lama, apalah arti sebuah nama, mungkin sudah tidak tepat sebenarnya. Mengapa? Karena nama, adalah sebuah identitas yang sangat berharga, dan tentulah pula makna yang dalam dari sebuah nama tersebut.

Pertanyaan berikutnya muncul lagi, mengapa Muara Wehea? Bukankah yang berlaku saat ini adalah Kecamatan Muara Wahau? Seuah pertanyaan yang muncul dan menurut kami sebagai sebuah bentuk nyata dari sebuah rasa ingin tahu, karena mungkin minimnya informasi yang tersedia, dan bisa jadi, juga karena belum mengetahui fakta sejarahnya, sehingga apa yang berlaku saat ini, sebenarnya merupakan sebuah kesalahan terstruktur yang memang telah lama tercipta, sehingga telah pula menguburkan arti dari nama yang seharusnya dan sebenarnya.

Terkait dengan penulisan kami yang menggunakan Kecamatan Muara Wehea, semuanya datang dan lebih karena fakta sejarah, bahwa penyebutan yang ada hingga kini adalah sebuah kesalahan fatal yang juga mungkin dilakukan secara sengaja, atau bahkan direncanakan secara sistematis, dengan mengabaikan kaidah-kaidah penggalian fakta sejarah yang sebenarnya, atau yang minimal mendekati kebenaran.

Disamping itu, memang tidak ada nama tersebut dalam setiap kata dalam bahasa setempat, yang merupakan penduduk tempatan dan telah berabad-abad mendiami wilayah ini, khususnya pada 2 bantaran sungai yang ada, yaitu Sungai Wehea dan Sungai Tlan (biasa disebut Sungai Telen).

Bagi orang-orang tua, baik yang berada di Desa Nehas Liah Bing, Long Wehea dan Diaq Leway, maupun di 3 desa asli di Sungai Tlan (Dea Beq, Diak Lay dan Bea Nehas), apabila akan ke pusat kecamatan yang biasa disebut saat ini, mereka selalu menyebutkan bukan nama itu, tetapi nama sebenarnya, yaitu Lebeng (artinya: Muara) Wehea.

Dalam beragam topik diskusi yang pernah dilakukan, untuk menggali fakta sejarah yang sebenar-benarnya, selalu disebutkan, bahwa nama yang ada saat ini adalah sebuah kesalahan, karena yang benar adalah Lebeng (Muara) Wehea.

Jadi, menjawab pertanyaan dari sang penanya, dan sekaligus buat para pembaca yang mungkin merasa bingung dengan penamanaan yang benar dan sebenarnya, hendaklah kita mulai menggunakan nama sebenarnya, sekaligus juga untuk mendudukan kebenaran yang sesuai dengan fakta-fakta sejarah.

Sekali lagi, karena nama adalah sebuah identitas, dan dengan identitas itulah kita dikenal, bukan dalam sebuah samaran, yang justru akan menghilangkan bahkan menguburkan fakta sejarah itu sendiri..........selamat membaca dan mulailah untuk menuliskan nama Kecamatan Muara Wahau dalam sebuah sebutan yang sebenarnya bernama Kecamatan Muara Wehea.....


Jumat, 17 Februari 2012

Gereja Katolik Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing_Wehea_Kaltim



Perkembangan Pembangunan Gereja Katolik Santa Maria Ratu Damai
Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur

Memasuki periode Pebruari 2012, pembangunan Gereja Katolik Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing_Kecamatan Muara Wehea_Kutai Timur_Kaltim, telah menyelesaikan seluruh pilar utamanya.
Gedung Pastoran di belakang Gereja Paroki yang baru (dok_18_peb_2012)
Berdasarkan pantauan lapangan, saat ini, terlihat para pekerja sedang menyelesaikan pengecoran lantai sambil menunggu datangnya rangka baja untuk tiang dan atap bangunan gereja.

Hartono, selaku pimpro dari proyek pembangunan tersebut mengatakan bahwa tidak ada kendala berarti dalam proses pembangunannya dan berharap agar semuanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan target penyelesaian yang telah disepakati bersama.

Pilar dan Lantai Gereja yang sedang dikerjakan  (dok_18_peb_2012)
Sementara itu, pada sisi barat, tampak telah berdiri sebuah bangunan lain, yaitu Pastoran Paroki yang menghadap langsung kearah gereja, dimana pada saat ini (pebruari 2012) telah mulai memasuki tahap finishingnya.
BangGedung Gereja_tampak samping (dok_18_peb_2012)

Pembangunan Gereja Katholik Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing tersebut dapat selesai pada periode Juli 2012, yang nantinya juga diharapkan dapat langsung digunakan.

Dengan dilaksanakan pembangunan gereja yang baru, diharapkan mampu mengatasi membludaknya umat setiap kali ibadat Misa maupun pada perayaan Natal dan Paskah, yang selama ini tidak dapat tertampung pada Gereja Lama.

Kompleks seluas 2.5 hektar tersebut diharapkan menjadi Pusat Pelayanan Pastoral yang representatif dalam Keuskupan Agung Samarinda, khususnya dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, yang tersebar dalam 18 stasi di 4 kecamatan, yaitu, Kecamatan Muara Wehea, Kung Beang, Telen dan Batu Ampar.

Pastor Thomas Sudarmoko, SVD, selaku Pastor Paroki Santa Maria Nehas Liah Bing menyatakan harapannya bahwa, dimasa depan, kompleks paroki tersebut juga akan dilengkapi dengan sebuah gedung serba guna (Gedung Paroki), tetapi menurutnya yang paling mendesak pada saat ini adalah gereja dan pastoran.

Kompleks Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing tersebut memiliki letak yang cukup strategis danhanya berjarak sekitar 1 km dari jalan trans Kaltim serta mudah dijangkau, baik dari Kampung Nehas Liah Bing serta beberapa kampung lainnya di Sungai Telen, maupun dari arah desa-desa eks-transmigrasi.



Sejarah Pembangunan Gereja Katolik Santa Maria Nehas Liah Bing

Sejak dekade 1950-an, Misi Agama Katolik telah masuk ke Desa Nehas Liah Bing, sedangkan pelayanan pastoralnya dilakukan oleh para misionaris yang bertugas di Samarinda. Pada masa-masa awal, pelayanan pastoran dilakukan di rumah-rumah warga di Kampung Nehas Liah Bing hingga dekade 1980-an.

Bersamaan dengan semakin intensifnya kunjungan para misionaris ke wilayah tersebut, serta dengan ditetapkannya Long Segar sebagai Pusat Paroki di Kecamatan Muara Wehea, pelayanan pastoral ke wilayah tersebut dan daerah sekitarnya menjadi cukup mudah, walaupun pada masa itu akses transportasi hanya dapat dilalui lewat sungai.

Pada akhir dekade 1980-an, kemudian secara bergotong-royong, umat mulai menginisiasi secara swadaya, khususnya untuk membangun Gereja Stasi Santa Maria Ratu Damai di Nehas Liah Bing yang juga dilengkapi dengan Pastorannya. Pembangunan gereja stasi serta pastoran akhirnya selesai pada awal dekade 1990-an.

Sementara itu, perkembangan umat pada tahun 1990-an semakin meningkat, seiring dengan kehadiran beberapa perusahaan swasta yang beroperasi di sekitar Nehas Liah Bing, dimana banyak pekerjanya yang juga sebagai pemeluk Katolik.

Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 2005, seiring dengan semakin membaiknya akses transportasi melalui jalur darat, Stasi Nehas Liah Bing akhirnya ditetapkan sebagai Pusat Paroki, sehingga secara otomatis, pusat paroki sebelumnya di Desa Long Segar juga berubah menjadi gereja stasi.

Bersamaan dengan ditetapkannya sebagai pusat paroki dengan pastor paroki kala itu adalah Pater Remygius Ukat, SVD, kemudian mulai diinisiasi sebuah rencana besar untuk membangun gedung gereja yang baru yang lebih representatif sebagai pusat pengembangan Katolik di wilayah ini, sehingga pada tahun 2007, dimulailah proses pembangunan gereja baru yang lokasinya berdekatan dengan lapangan sepak bola atau berjarak sekitar 200 meter dari gereja sebelumnya, dan peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Uskup Agung Samarinda, yang mulia Mgr. Sului Florentinus, MSF.

Dengan swadaya umat yang luar biasa, akhirnya, fondasi gereja dapat terbangun. Tetapi pembangunan di lokasi tersebut bukan tanpa kendala. Banjir yang sering melanda Desa Nehas Liah Bing, juga seringkali menggenangi lokasi rencana gereja baru tersebut, sehingga pada tahun 2011, bersamaan dengan dengan pergantian pastor paroki dari almarhum Pater Remygius Ukat, SVD, ketangan Pater Thomas Sudarmoko, SVD, mulai juga dipikirkan bagaimana mengatasi kendala-kendala tersebut.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencari alternatif lokasi lain terkait dengan rencana pembangunan gereja, dan akhirnya dengan peran yang luar biasa dari Bapak Heang Tung serta dibantu oleh beberapa tokoh lainnya seperti Liah Mad dan Booq Bit, akhirnya diperoleh peluang untuk mendapatkan lokasi baru.

Melalui sebuah komunikasi yang sangat singkat, Bapak Lan Song, akhirnya bersedia untuk menyerahkan sebagian lahannya seluas 1.5 hektar untuk menjadi lokasi baru bagi pembangunan gereja.

Pertanyaan baru kemudian muncul, dimana dengan dana swadaya serta bantuan keuskupan yang telah dikeluarkan untuk pembangunan gereja pada lokasi sebelumnya tentu akan menjadi sia-sia dan mubasir, sementara proses penggalangan dana melalui partisipasi umat pun kadang-kadang sering tersendat.

Dengan kondisi yang demikian, telah menciptakan sebuah situasi yang sangat dilematis, khususnya bagaimana cara untuk memulai, sehingga sebuah “keajaiban” datang sekaligus membawa kabar gembira, dimana beberapa donatur bersedia untuk membiayai proses pembangunan gereja hingga selesai termasuk dengan pastorannya.

Puji Tuhan, akhirnya bersamaan dengan terjadinya kesepakatan bersama antara para pihak, diantaranya para donatur, serta pelaksana kegiatan pembangunan dan disaksikan pastor paroki, pembangunan gereja baru yang dilakukan di lokasi yang baru dapat terwujud.