terletak di pedalamanan kalimantan timur, selalu setia untuk membawa kabar gembira serta pesan kasih dan perdamaian bagi dunia
Rabu, 08 Mei 2013
Selasa, 07 Mei 2013
Suster Louis, SSpS Menuju Tanah Misi Baru
Suster Perintis itu akhirnya Menuju Tanah Misi Baru
Nehas Liah Bing (8/5/3)
Bertempat di Pastoran Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Suster Louis, SSpS yang akrab disapa Nenek, akhirnya mengucapkan salam perpisahan kepada segenap umat di Nehas Liah Bing.
Puluhan umat dari beberapa stasi mengukuti acara ramah tamah sekaligus perpisahan bersama Suster Louis, SSpS, yang juga dihadiri oleh Suster Hermine, SSpS, sebagai kepala biara Sanctisima Trinitas Nehas Liah Bing.
Suster Louis, SSpS, yang pada akhir dari acara perpisahan tersebut mengungkapkan kesan dan pengalaman pelayannya selama di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Saya tidak tahu harus bicara apa lagi, saya hanya bisa menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada seluruh umat, sejak awal kami disini pada tanggal 29 Mei 2009, kami diterima disini secara adat Suku Dayak Wehea, kami diterima dan diikat sebagai saudara disini.
Ditambahkan Suster Louis, SSpS, bahwa sejalan dengan permintaan dari Bapak Uskup Agung Samarinda, beliau menyampaikan kepada kami pada saat itu, suster, tolong ingat dan bantu komunitas saya, orang-orang Dayak (Wehea) disana, bantu mereka dan bangun mereka. Sebuah pesan sederhana dari Sang Gembala, Yang Mulia Mgr. Florentinus Sului, MSF, pada saat itu menjadi pelecut bagi kami untuk maksimal melayani umat di paroki ini.
Selama dalam pelayanan disini, saya sering merepotkan para ibu-ibu yang terkadang saya minta untuk mengantarkan saya kemana-mana untuk menemui umat yang tersebar di beberapa stasi, bersama-sama dengan kaum jompo dan lainnya untuk membawa mereka agar semakin mengenal sang gembala abadi, mengenal Yesus.
Pada awal karya, kami menempati rumah kontrakan yang sebenarnya sangat tidak aman, karena beberapa kali kami diganggu, bahkan pernah rumah biara dilempar batu oleh orang-orang yang mungkin sedang mabuk. Pada saat itu hanya ada Suster Martha, SSpS, sendirian di biara, dia menangis entah harus berbuat apa, tetapi sebuah ucapan syukur bahwa kami tidak sendiri, karena kami juga sangat sering dikunjungi oleh umat yang datang berkunjung ke biara.
Kini, setelah hampir 3 tahun sebelumnya menempati rumah kontrakan, akhirnya berkat Tuhan, bahwa kami kemudian menempati rumah Biara yang baru, yang walalupun sepi dipinggir hutan, kami merasa sangat tenang, karena kami merasa diperhatikan oleh seluruh umat. Dan sejak awal, kami sama sekali tidak merasa asing disini, tutur Suster Louis, SSpS.
Sebuah pengalaman luar biasa juga sempat diceritakan Suster Louis, SSpS, saat bertugas pada sebuah paroki di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Saya menangis, saat Misa hari minggu, hanya sedikit atau segelintir umat saja yang hadir. Kemana mereka? Tanya saya pada saat itu kepada Pastor Paroki. Saya yang baru bertugas di paroki itu pada saat itu akhirnya diserahi tugas mulia oleh Pastor. Baiklah, besok Suster keliling untuk mencari umat. Sebuah pengalaman luar biasa, kami harus masuk keluar hutan, menyeberangi sungai, demi mencari domba-domba yang hilang, ungkap Suster Louis.
Sebuah semangat persaudaraan, baik didalam komunitas maupun dengan seluruh umat telah menghantarkan langkah kaki saya hingga disini, dan sebentar lagi akan menuju ke tanah misi yang baru. Saya yakin, bahwa saya tidak berbuat sesuatu disini, tetapi saya percaya bahwa Yesuslah yang berkarya, Dia-lah yang bekerja, saya hanya sebagai alat yang digunakan Tuhan untuk melayani domba-domba, melayani umat yang tersebar di paroki ini.
Pada akhir pesannya, Suster Louis, SSpS berharap agar karya yang telah dimulai ditempat ini dapat diteruskan, termasuk beberapa rencana yang telah disusun bersama, dan tidak lupa juga meminta maaf kepada seluruh umat, mungkin kehadiran saya ada yang tidak berkenan, atau mungkin saya pernah salah pada umat, saya mohon maaf, dan mohon doa dari umat agar saya selalu kuat menuju tanah misi yang baru, serta tolong sampaikan salam saya kepada umat lainnya yang mungkin tidak sempat bertemu muka dengan mereka.
Suster Louis, SSpS, seorang suster yang kini mulai menapaki usia senjanya, tetap semangat untuk melanjutkan karya, mengikuti jejak Sang Gembala, untuk meretas jalan ditanah misi yang baru, untuk kembali dalam sebuah perutusan, mencari domba-domba yang tersesat dan hilang.
Semoga terus berkarya suster, dan semoga selalu dalam Lindungan-NYA.
Sabtu, 23 Februari 2013
Perkumpulan Guru-Guru Katolik di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing
Inisiasi
Pembentukan Persatuan Guru Katholik di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah
Bing, Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur
Nehas Liah Bing (23/2/13)
Bertempat di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai
Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur,
dilakukan pertemuan yang digagas oleh beberapa orang guru yang beragama Katolik
dari Kecamatan Muara Wehea dan Kung Beang.
Heribertus, salah satu guru yang berasal dari Desa
Sukamaju, Kecamatan Kung Beang, sebelum pertemuan mengungkapkan bahwa rencana
pertemuan tersebut telah dikoordinasikan dengan Pastor Lucius Tumanggor, SVD,
selaku pastor di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.
Ditambahkan Heri, bahwa pada pertemuan awal
tersebut, agar kiranya dapat terbentuk terlebih dahulu para pengurus
organisasi, yang nantinya dapat dijadikan pijakan awal bagi kita untuk
melangkah lebih jauh.
Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk
melakukan inisiasi pembetukan sebuah organisasi atau perkumpulan para guru,
bukan hanya sebatas Guru Agama Katolik saja, tetapi semua guru-guru yang
beragama Katolik yang tersebar pada beberapa kecamatan dalam wilayah Paroki
Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para guru dari dua
wilayah, yaitu Kecamatan Muara Wehea dan Kecamatan Kung Beang sebanyak 15
orang. Masih banyak guru-guru beragama Katolik yang tersebar dalam beberapa
kecamatan dalam wilayah paroki, dan para pertemuan-pertemuan selanjutnya
diharapkan semakin banyak para guru beragama Katolik yang dapat terlibat.
Pada awal pertemuan, Pater Lucius Tumanggor, SVD,
dalam pengantarnya menyampaikan bahwa sebuah organisasi sangat dibutuhkan,
termasuk dalam kelompok-kelompok juga dengan hal para guru-guru yang beragama
Katolik.
Persatuan guru-guru Katolik, nantinya harus dapat
mengemban tugas misi, baik secara internal, maupun eksternal, sehingga
organisasi yang akan dibentuk itu dapat memberi warna baru dalam pengembangan
paroki ini dimasa depan. Pater Lucius, SVD, juga menyampaikan bahwa dalam
Kongregasi SVD, juga terdapat kelompok-kelompok SVD awam seperti Soverdia.
Sementara itu, beberapa guru yang hadir
menyampaikan bahwa sebagai awal, sebaiknya kita memilih para pengurus terlebih
dahulu dan atas dasar saling percaya sesama saudara seiman, akhirnya system pemilihan
tanpa melalui mekanisme baku, tetapi dengan penunjukan langsung dan disepakati
oleh seluruh peserta pertemuan.
Terpilih sebagai ketua perkumpulan para guru
Katolik yang pertama adalah Bapak Heribertus yang juga merupakan Guru Agama
Katolik sekaligus sebagai Katekis dari Desa Sukamaju, Kecamatan Kung Beang, dan
sebagai wakilnya adalah Bapak Fransiskus Saverius, 2 orang sekretaris, yaitu
Ibu Ermilinda Ermin dan Ibu Maria Magdalena Endreni, serta bendahara oleh Ibu
Kristina Rosalinda Bunga Wanda.
Selain pengurus inti, juga ditetapkan 2 bidang
utama (seksi) yang akan menjadi bidang inti dari Perkumpulan SoVerDia tersebut,
yaitu seksi Liturgi (Bapak Yohakim) dan Katakese (Suster Karolina) serta 2
bidang pendukung, yaitu Humas (Bapak Makabius Basa) dan Dokumentasi (Ibu Veni
Revensia Bulan). Sementara sebagai pelindung dan penasihat adalah Pater Lucius
Tumanggor, SVD dan Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah
Bing.
Seluruh organisasi Katolik, tidak terlepas dari
keberadaan Gereja Katolik itu sendiri, sama halnya yang ada di Paroki Santa
Maria Ratu Damai, maka kehadiran perkumpulan SoVerDia yang menjadi wadah bagi
para guru yang beragama Katolik dan tersebar di 4 kecamatan dalam wilayah
Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing secara otomatis akan berada
dibawah paroki, sehingga pelindung dan penasihatnya adalah pastor paroki serta
DPP St. Maria Ratu Damai.
Dalam pertemuan tersebut, selain memilih para
pengurus serta beberapa seksi, juga disepakati nama perkumpulan tersebut, dan
sesuai dengan saran dari Pater Lucius Tumanggor, SVD, dipilih nama SoVerDia sebagai nama perkumpulan yang
kelak menjadi wadah bagi semua guru yang beragama Katolik dan yang tersebar di
Kecamatan Muara Wehea, Kung Beang, Telen dan Batu Ampar.
Dewasa ini, tugas-tugas pewartaan bukan hanya
menjadi tugas dari para pastor saja, tetapi juga merupakan tanggung jawab
bersama termasuk kelompok awam, yang didalamnya juga termasuk para guru yang
beragama Katolik, dan hal tersebut merupakan sebuah tugas mulia, penuh tantangan
dan para guru Katolik diharapkan dapat memberikan contoh serta menjadi teladan
yang baik kepada masyarakat.
Dimasa kini dan dimasa depan, para guru yang
beragama Katolik diharapkan memiliki komitmen yang kuat serta tangguh dalam
menghadapi tantangan dan perubahan zaman, serta harus menjadi guru profesional
dengan terus meningkatkan ilmu pengetahuan dan harus menguasai teknologi
moderen saat ini, sehingga dengan hadirnya perkumpulan SoVerDia ini dapat member
warna baru dalam kehidupan menggereja dalam seluruh wilayah paroki, juga dapat
menjadi contoh dan teladan bagi sesama manusia.
Suster-Suster SSpS Siap Kembangkan PG/TK di Nehas Liah Bing
Pendidikan: Karya Suster SSpS berikutnya di Nehas
Liah Bing
Nehas Liah Bing (19/2/13).
Sesuai dengan amanat dan keputusan Rapat Pleno DPP
St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing_Wehea_Kalimantan Timur, pada tanggal 7-8
Pebruari 2013, bahwa Komunitas Suster SSpS Sanctissima Trinitas Nehas Liah
Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim, ditunjuk untuk segera
melakukan persiapan program pendidikan untuk anak usia dini dengan kosentrasi
pada PG/TK.
Pater Thomas Sudarmoko, SVD, selaku Pastor Paroki
St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing (sebelum pindah tugas) menyampaikan bahwa
dengan disepakatinya agar Komunitas Suster SSpS segera memulai karya pendidikan
di wilayah pusat paroki, maka langkah-langkah kongkrit harus segera diambil
oleh komunitas SSpS disini. Silakan gunakan gedung gereja yang lama sebagai
awal untuk memulai karya itu, ujar Pater Thomas, SVD.
Senada dengan Pater Thomas, SVD, Suster Hermine,
SSpS, selaku Ketua Komunitas SSpS Sanctisimma Trinitas Nehas Liah Bing
mengungkapkan rasa haru dan gembira, bahwa mimpi untuk melakukan pelayanan dan
karya dibidang pendidikan telah direstui oleh pemangku wilayah paroki.
Menyikapi hal tersebut, dalam kesempatan yang
berbeda tanggal 6 Pebruari 2013, Komunitas Sanctissima Trinitas Nehas Liah Bing
mendapat kunjungan dari Pimpinan Kongregasi SSpS Provinsi Kalimantan dari
Palangkaraya.
Kedatangan pimpinan kongregasi tersebut juga dimanfaatkan
oleh para suster di Nehas Liah Bing untuk mendiskusikan dan memantapkan rencana
untuk mengembangkan karya pendidikan di pusat paroki.
Suster Hermine, SSpS, dalam sebuah percakapan di
Biara SSpS Nehas Liah Bing mengungkapkan, selain rasa gembira karena telah
direstui oleh Pastor Paroki saat Pleno DPP Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah
Bing, pada saat ini terdapat sebuah ganjalan besar yang dihadapi oleh komunitas
SSpS disini, yaitu persoalan pendanaan untuk memulai kegiatan tersebut.
Gedung telah ada, dan perlu dilakukan beberapa
pembenahan, diantaranya pembuatan sekat ruangan, sarana permainan, termasuk
pagar bagian depan gereja. Secara prinsip kami siap untuk memulai rencana dan
karya pendidikan tersebut, tetapi kami berharap kiranya ada pihak yang mau
membantu baik secara perorangan ataupun kelembagaan, untuk dapat membantu kami
dalam memulai karya ini.
Sebuah mimpi besar, sebagai sebuah jalan untuk
membangun sebuah karya pendidikan, diperlukan sebuah kesiapan dari segala
aspek, termasuk pendanaannya. Semoga karya para Suster SSpS dapat terus
berjalan, seiring dengan dinamika perkembangan yang semakin pesat diwilayah
ini, sekaligus mengambil peran dalam rangka mendukung pengembangan sumberdaya
manusia di wilayah ini.
Pendanaan, walaupun saat ini menjadi kendala,
tetapi dengan sumberdaya apapun yang ada saat ini, para Suster SSpS menyatakan
siap untuk memulai tentunya dengan segala keterbatasan yang ada.
Semoga sukses, Tuhan Memberkati....Amin.
Note:
Bagi para donatur yang ingin membantu terlaksanya
program dan karya pendidikan ini dapat menghubungi langsung para suster SSpS
Nehas Liah Bing atau melalui alamat email dan nomor telepon:
1.
santamaria.rd@gmail.com
2. cringgi@gmail.com
3. Chris Djoka: 0821 5552 3322
4. Sr. Louis, SSpS: 085252992412
Kamis, 31 Januari 2013
ST. ARNOLDUS JANSSEN PENDIRI TIGA KONGGREGASI
JALAN
HIDUP & RAHASIA KEBERHASILAN
Arnoldus Janssen dilahirkan pada 5 November
1837 di Goch, dataran rendah sungai Rhein. Ayahnya bernama Gerhard Janssen dan
ibunya Anna Katharina Wellesen. Allah mengaruniakan pasangan itu sebelas anak,
tiga diantaranya meninggal dalam usia kanak-kanak. Dari tujuh anak bersaudara
bersama dengan Arnoldus, lima saudara dan dua saudari, yang menikah adalah
saudarinya tertua yakni Margaretha dan saudara-saudaranya Gerhard, Peter dan
Theodor. Hanya Peter tidak mempunyai anak. Seorang saudaranya yang lain,
Wilhelm, menjadi bruder dalam ordo Kapusin dengan nama Juniperus. Saudaranya
yang bungsu, bernama Yohanes, lahir pada 15.10.1853, enam belas tahun lebih
muda dari Arnoldus. Dia disuruh Arnoldus supaya belajar. Sebagai diakon dia
bergabung dengan Arnoldus ketika dia baru saja mendirikan Rumah Misi. Kemudian
Yohanes menjadi imam dan menjadi seorang pembantu yang sangat penting bagi
Arnoldus, tapi sudah meninggal pad 1898 dalam usia 44 tahun.
Sesudah tiga tahun di sekolah rakyat
(1844-1847) dan sesudah satu tahun persiapan pada sebuah sekolah rektorat kecil
yang baru saja dibuka di Goch, Arnoldus diterima pada gymnasium keuskupan di
Gaesdonck pada perbatasan Belanda dekat Goch. Sebagai siswa ekstern dia
menamatkan SMA di Münster pada 1855. Meskipun dia sudah berpikir untuk menjadi
imam, - waktu itu umurnya 18 tahun - dia lalu belajar, mengikuti keinginannya,
mula-mula matematika dan pengetahuan alam di Münster (1855-1857) dan di Bonn
(1857-1859) lalu dia dapat menyelesaikan pelajaran-pelajaran ini dengan
memperoleh wewenang mengajar untuk semua vak pada gymnasium. Dalam musim panas
1859 dia mulai dengan studi teologi, yang dilanjutkannya di Münster dalam musim
gugur 1859. Pada tanggal 15 Agustus 1861 dia menerima tahbisan imam dalam
Katedral di Münster.
Sesuai dengan latar belakang pendidikannya,
imam muda Janssen ditunjuk oleh Uskupnya sebagai pengajar pada Höheren
Bürgerschule di Bocholt (Westfalen). Di situ dia bertugas selama 12 tahun
sebagai pengajar matematika dan ilmu pengetahuan alam, sekaligus memberikan
pelayanan pastoral dalam paroki St. Georg di kota itu. Sejak 1865 dia mulai
giat untuk "Kerasulan Doa", mula-mula sebagai "promotor",
kemudian sejak 1869 sebagai direktur diosesan dalam keuskupan Münster. Untuk
anggota-anggota perhimpunan doa itu dia menyusun sebuah "Buku kecil untuk
penerimaan anggota Kerasulan Doa" dan sebuah "Pedoman kecil untuk Doa
Bersama" yang disebarluaskannya sendiri dengan giat. Untuk bisa lebih
bebas melayani kegiatan apostolis sebagai imam yang sudah dimulainya itu, dia
minta supaya dibebastugaskan sebagai pengajar di Bocholt pada 1873, lalu dia
menjadi kaplan untuk suster-suster Ursulin di Kempen. Mulai Januari 1874 dia
menerbitkan sebuah majalah populer dengan nama "Kleiner
Herz-Jesu-Bote" (Utusan Kecil Hati Yesus), dengan maksud mencari pelanggan
untuk membantu Misi "intern", yakni di tanah airnya dan terutama
untuk membantu Misi "ekstern" yakni Misi di antara orang kafir. Tidak
lama kemudian dia sudah menguraikan dalam majalahnya tentang perlunya
mendirikan sebuah Rumah Misi di Jerman untuk mendidik misionaris-misionaris.
Dalam bulan Mei 1874 Arnoldus Janssen
bertemu dengan Mgr. Raimondi, peserta pendiri seminari Misi di Milano, Prefek
Apostolik dan tidak lama kemudian Uskup di Hongkong, yang kebetulan menjadi
tamu pastor Ludwig von Essen di Neuwerk dekat Mönchengladbach. Atas desakan
Uskup Raimondi, bahwa jika tidak ada seorang yang mau bertindak, maka hendaknya
Janssen sendiri mendirikan Rumah Misi yang diperlukan itu. Dan akhirnya, pada
tanggal 8 September 1875, bertempat di Steyl, dalam distrik Tegelen, Belanda,
Arnoldus Janssen membuka Rumah Misi "St. Mikhael", yang menjadi Rumah
Induk "Serikat Sabda Allah".
Kendati permulaan yang sangat sederhana dan
kendati serba kesulitan intern selama setengah tahun pertama, tanpa
disangka-sangka telah mulailah perkembangan Rumah Misi dan Serikat Misi. Tahun
demi tahun dapat didirikan bangunan yang baru. Jumlah siswa dan calon bruder
senantiasa bertambah demikian rupa, sehingga rumah itu pada 1900 sudah
menampung sekitar 650 orang, yaitu sekitar 45 imam, 290 bruder dan novis bruder
dan hampir 320 siswa. Dalam sebuah percetakan milik sendiri diterbitkan
mula-mula hanya "Der Kleine Herz-Jesu-Bote", tapi sejak 1878 juga majalah
bulanan "Stadt Gottes" dan sejak 1880 "St.
Michaelskalender". Dalam musim gugur 1877 dimulai dengan suatu gerakan
khalwat, yang dari tahun ke ahun menarik ratusan, bahkan ribuan imam dan awam,
pria dan wanita untuk mengikuti hari-hari retret dalam Rumah Misi dan dengan
demikian memperkenalkannya dalam lingkungan-lingkungan lebih luas. Tapi Rumah
Misi itu terlebih lagi diperkenalkan lewat majalah-majalah, yang mencapai oplah
yang tinggi. Pada saat kematian Pendiri (1909), "Der Kleine Herz-Jesu-Bote"
(kemudian menjadi "Steyler Missionsbote") mempunyai 41.000 pelanggan,
"Stadt Gottes" 220.000, "St. Michaelskalender" malahan
655.000, di samping itu edisi Belanda dengan oplah 48.000. Lebih dari 63.600
orang, baik pria maupun wanita telah ambil bagian pada 592 retret di Rumah
Misi.
Sejak 1888 telah dibuka cabang-cabang
Serikat lebih lanjut: di Roma (St. Rafael), Mödling dekat Wina (St. Gabriel),
Neisse, Slesia (Heiligkreuz), di Saarland (St. Wendel), Bischofshofen, Salzburg
(St. Rupert), dan akhirnya dalam musim panas 1908 diambil keputusan untuk
membuka Rumah Misi yang pertama di Amerika Serikat: St. Mary's di Techny dekat
Chicago. Masih dalam hidupnya Arnoldus Janssen telah mengambil alih
daerah-daerah Misi dan wilayah-wilayah karya di semua benua. Dia sendiri dapat
mengutus lebih dari 800 misionaris (333 imam, 187 bruder, 301 suster) ke: Cina
(Shantung Selatan), Togo, Papua Nugini, Jepang, Argentina, Brasilia, Chile dan
Paraguay, ke Amerika Utara, juga untuk karya Misi di antara orang-orang Negro
yang sangat terlantar di negara-negara selatan. Perundingan-perundingan
mengenai kegiatan di Filipina hampir diakhiri, sehingga pada 1909
misionaris-misionaris dari Steyl bisa datang ke pulau-pulau ini.
Sejak mula Arnoldus Janssen sudah memahami
pentingnya keterlibatan suster-suster dalam kegiatan Misi, tapi baru pada 1889
dia mendirikan serikat suster-suster "Abdi-abdi Roh Kudus", yang
berkembang demikian pesat, sehingga pada 1909 sudah ada sejumlah 450 suster
Misi yang berkaul, 80 novis dan 30 postulan. Di Argentina, Togo, Papua Nugini,
USA, Brasilia, Shantung Selatan (Cina) dan Jepang suster-suster SSpS sudah
bekerja di samping para imam dan bruder. Pada waktu mendirikan kongregasi
suster-suster Misi sudah dipikirkan mengenai satu cabang untuk suster-suster Adorasi
Abadi yang dibentuk pada 1896 dan telah berkembang sebagai satu kongregasi
tersendiri yakni suster-suster "Abdi-abdi Roh Kudus dari Adorasi
Abadi". Pada 1909 jumlah mereka 30 suster, termasuk novis-novis dan
postulan-postulan.
Karya yang dibangun dan dikembangkn oleh
Arnoldus Janssen, dipimpinnya juga dengan seluruh tenaga pribadinya sampai
dengan penyakit pitam yang dideritanya pada akhir Oktober 1908. Ketika ia tutup
usia pada 15 Januari 1909, ia meninggalkan karya Misi dari Steyl yang terdiri dari
tiga serikat Misi itu dalam keadaan demikian mantap, sehingga selama
dasawarsa-dasawarsa berikut, kendati menghadapi krisis serta kerugian yang
besar akibat dua perang Dunia dan dalam masa nasional sosialisme, dapat
berkembang terus dan menjadi salah satu dari antara serikat-serikat Misi
terbesar di dalam Gereja.
Rahasia Keberhasilan: Arnold Janssen - Seorang Kudus
Kehidupan dan karya Arnoldus Janssen
memberikan kesan yang demikian kuat, sehingga orang harus berkata: dia telah
melaksanakan sesuatu yang luar biasa. Rasanya sukses-sukses karyanya lebih
mengagumkan, bila orang ingat bahwa sejak masa mudanya dia menunjukkan dengan
jelas batas-batas kemampuan dan batas-batas aslinya. Pada gymnasium di
Gaesdonck dia harus mengulang kelas III. Hal itu bisa dimengerti, karena memang
persiapan pada sekolah rektorat di Goch tidak mencukupi. Tapi dia sendiri
beberapa kali mengakui bahwa di gymnasium itu dia sungguh-sungguh harus
membanting tulang. Tentang itu dia mengungkapkan dalam kenangan-kenangannya
yang didiktekannya kepada P. Reinke. Pada 1902 dia berkata kepada sekretarisnya
P. Jakob Koch: "Sampai sekarang saya tidak mengerti bagaimana sampai
terjadi waktu itu (1849) sehingga saya dapat diterima di Gaesdonck, padahal
saya jauh lebih lemah dari semua yang lain. Dalam hal studi saya sama sekali
tidak pernah cemerlang, hanya satu kali saya sampai mendapat pujian pada
censur, tapi tidak pernah sampai mendapat bonus". Tapi dia berusaha
sungguh-sungguh dan dapat mencapai hasil-hasil yang baik dalam matematika dan ilmu
pengetahuan alam, dan meskipun di bidang bahasa dia tetap lemah, namun sebagai
siswa ektern dia bisa lulus dalam ujian akhir di Münster pada 1855.
Di Bocholt dia adalah seorang yang bekerja
teliti, penuh perhatian, tapi bukan seorang guru yang cemerlang, sebagaimana
kemudian disaksikan oleh banyak di antara siswa-siswanya. Selama hidupnya dia
tetap seorang yang dalam bekerja agaknya lebih lamban dan pelan. Beberapa kali
dia menyatakan rasa kagumnya bahwa P. Blum bias bekerja lebih mudah dan cepat.
Satu hal yang menegaskan penilaian ini ialah juga pendapat yang negatif dari
orang-orang yang mengenalnya, apabila mereka mendengar tentang
rencana-rencananya mengenai pembangunan Rumah Misi.
Bagaimana dapat dijelaskan, bahwa Arnoldus
Janssen kendati batas-batas kemampuannya yang demikian dapat menyelesaikan
dengan cara yang begitu berhasil tugas yang diberikan Allah kepadanya, yakni
mendirikan dan meluaskan karya Misi dari Steyl itu dengan segala tuntutannya? -
P. Hermann Fischer menulis dalam usaha untuk memahami lebih baik pribadi
Pendiri Serikat-serikat Misi dari Steyl itu, yang oleh begitu banyak orang
disalahpahami tapi dikagumi, sebagai berikut: "Kunci untuk mengetahui
watak Arnoldus Janssen yang sulit dipahami itu ialah penalaran dan penilaiannya
yang sangat bersifat asketis. Baginya adalah suatu hal yang hampir kodrati,
bahwa ia melihat dan memperlakukan segala sesuatu yang dihadapinya dari sudut
pandangan adikodrati".
Dengan sesungguhnya, dalam hidup pribadi dan
juga dalam semua rencana dan tindakannya dia adalah pada intinya satu pribadi
yang ditentukan oleh sikap dasar religiusnya. Dia adalah seorang yang sangat
mesra bersatu dengan Allah dan pasrah kepada Allah. Maka kita boleh mengatakan:
dia adalah seorang kudus, sebagaimana diakui oleh Gereja dengan menggelarnya
sebagai Yang Bahagia. Sangat tepat ialah ungkapan tentang pribadi dan karya
Pendiri Serikat-serikat Misi dari Steyl itu juga seperti terdapat dalam judul
sebuah gambar bersuara oleh P. Johann Rzitka SVD: "Seorang yang percaya,
yang berani bertindak", dan dalam judul buku riwayat hidup Arnoldus
Janssen oleh Udo Haltermann "Seorang beriman menempuh jalannya".
Sikap iman yang kokoh itu telah memungkinkan karya Arnoldus Janssen dan telah
menguduskannya di dalam pelaksanaan tugas hidupnya.
ST. ARNOLDUS JANSSEN
PENDIRI TIGA KONGGREGASI
SVD, sejak awal
berdirinya, dikhususkan oleh St. Arnoldus Janssen
untuk karya misioner di seIuruh dunia, terutama di tempat di mana Injil belum
dikenal. Sasaran misi pertama SVD adalah Cina. Kini SVD telah merentangkan
sayapnya ke lima benua, yaitu Asia, Australia, Amerika, Afrika dan Eropa.
SPIRITUALITAS SVD
SVD mempunyai dua
semangat dasar yang menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan seluruh karya
misinya:
1. Spiritualitas
Triniter
Kasih kepada Allah
Tritunggal menjadi fundamen hidup dan kekuatan bagi kerasulan SVD. Inilah inti
pati dan kekuatan guna membantu semua orang dan anggotanya untuk memperoleh
kepenuhan martabat manusia, yakni dalam mengambil bagian hidup komunitas Allah
Tritunggal dalam hubungan yang mesra dan dengan semua manusia dalam Allah
Tritunggal. Hal ini diwujudkan dengan semangat hidup berkomunitas persaudaraan
dan internasionalitas.
2. Spiritualitas
Misioner
Sebagaimana Bapa
mengutus Putra, dan Bapa serta Putra mengutus Roh Kudus, demikian juga SVD
ingin mengambil bagian dalam tugas perutusan, mewartakan Sabda Allah sebagai
seorang misionaris.
BIDANG KARYA SVD
Karya misioner sesuai dengan kharisma SVD. Oleh
karena itu para anggota SVD terjun langsung sebagai pelayan pastoral teritorial
maupun kategorial misioner.
Bidang karya yang
mendapat prioritas utama:
Langganan:
Postingan (Atom)