Kamis, 15 Mei 2014

Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing Terima 2 Mahasiswi KKN dari STKPK Samarinda

Dua Mahasiswa STKPK Lakukan Kuliah Kerja Nyata di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim

Kabar Paroki
Kamis (15/05/14)


Sekitar pukul 22.30 wita, dua orang mahasiswi dari Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik (STKPK) Samarinda tiba di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur dengan menggunakan taksi dari Samarinda dan disambut oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD, selaku Pastor Paroki SMRD Nehas Liah Bing yang kebetulan sedang melakukan pertemuan dengan beberapa orang umat terkait rencana pembangunan rumah singgah atau wisma paroki di Kompleks Gereja Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.

Setelah perkenalan sesaat, kedua mahasiswi tersebut langsung diantar ke Pastoran Paroki Lama di RT. 03, Kampung Nehas Liah Bing, karena saat ini, karena keterbatasan kamar di pastoran baru, seluruh tamu paroki biasanya diarahkan untuk menginap di pastoran lama.

Kedua mahasiswi tersebut adalah Wanda dan Ninda yang akan melaksanakan KKN selama tiga bulan hingga Agustus 2014 mendatang. Menurut Pater Lucius Tumanggor, SVD, selaku pastor paroki, kedua mahasiswi tersebut seperti pada tahun sebelumnya direncanakan untuk di tempatkan pada beberapa stasi terdekat, khususnya di stasi-stasi komunitas lokal Wehea, agar para mahasiswi tersebut dapat belajar untuk mengaktualisasikan diri sekaligus mengambil peran dan terlibat langsung dalam kegiatan pastoral di wilayah paroki.

Semoga Wanda dan Ninda dapat melaksanakan kegiatan KKN-nya dengan lancar sesuai rencana dan dapat berbagi bersama umat pada stasi-stasi dimana mereka ditempatkan nanti (adm).



Menara Patung Santa Maria Ratu Damai Resmi Dibangun

Pembangunan Menara Patung Bunda Maria Dimulai

Kabar Paroki
Kamis (15/05/14)


Setelah tertunda selama enam bulan, akhirnya pembangunan Menara Patung Bunda Maria di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kaltim, dimulai.

Menurut Pater Lucius Tumanggor, SVD, Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, bahwa pembangunan menara tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 2013, tetapi karena adanya beberapa halangan akhirnya baru dapat dimulai kembali pada periode Mei 2014 dengan menyelesaikan penggalian fondasi untuk menara serta kolam yang mengelilingi menara tersebut.

Patung Bunda Maria dari bahan pualam tersebut merupakan persembahan dari seorang donatur paroki dan tiba pada September 2013 lalu yang rencananya akan ditempatkan di puncak menara setinggi kurang lebih 2,5 meter. Penempatan patung Bunda Maria tersebut dilakukan tepat di tengah halaman Gereja Santa Maria Ratu Damai yang sekaligus menjadi pelindung paroki.

Pekerjaan menara tersebut dilakukan dengan melibatkan umat secara bergotong royong dan dipimpin oleh Chris Djoka dan ditargetkan akan selesai pada periode Agustus 2014. Kita lakukan secara bertahap dan harus diperhitungkan dengan benar, karena patung berbahan batu pualam tersebut cukup berat sehingga perencanaan fondasi dan tiang menara harus benar-benar kokoh, tutur Chris Djoka.

Pasca pekerjaan persiapan selesai dilakukan, pada Rabu (14/05/14) akhirnya dilakukan pengecoran fondasi tiang menara berukuran 120 x 120 x 80 cm. Beberapa orang umat terlibat langsung dalam pengerjaan fondasi tersebut diantaranya Bapak Simon yang juga Koster di Gereja Santa Maria Ratu Damai, Wan dan Bato dari Nehas Liah Bing, Heluy, Mal Ba, Us serta Joko Pramono dari PT. DSN Group dan Tatang, seorang aktivis lingkungan dari RHOI dan pengecoran tersebut baru selesai sekitar pukul 20.00 wita.

Sesuai dengan rencana, seminggu setelah pengecoran fondasi akan disusul dengan pengecoran tiang menara berdiameter 55 cm dan kita tetap akan lakukan secara bertahap sesuai dengan target bahwa penempatan Patung Bunda Maria pada puncak menara akan dilakukan sekitar bulan Agustus mendatang dan jika sudah terpasang akan dilanjutkan dengan penyelesaian pekerjaan taman gereja, tutur Pater Lucius Tumanggor, SVD.

Tidak lupa, Pater Lucius Tumanggor, SVD, juga menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu terutama dari aspek pendanaan dari sebuah perusahaan untuk proses pekerjaan menara Patung Bunda Maria tersebut dan berharap bahwa pekerjaan tersebut akan selesai sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Selain pembuatan Patung Menara Budan Maria yang kelak akan menjadi icon Gereja Santa Maria Ratu Damai, sesuai dengan amanat yang tertuang dalam Pleno DPP Santa Maria Ratu Damai, pasca pembangunan menara tersebut akan dilanjutkan dengan pembangunan Kantor Paroki dan Sekretariat Komka Paroki yang ditargetkan akan diselesaikan sebelum akhir tahun 2014 serta teras pastoran.


Untuk semua rencana tersebut, Pater Lucius Tumanggor, SVD, kembali mengharapkan dukungan dan doa dari seluruh umat paroki agar semua rencana yang telah disusun tersebut dapat terlaksana demi meningkatkan pelayanan kepada umat dalam Paroki Santa Maria Ratu Damai (adm).

Rabu, 07 Mei 2014

SLANK Siap Kunjungi WEHEA

Dalam sebuah diskusi di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim bersama ProFauna, terbersit sebuah ide menarik untuk mengundang SLANK, sebuah group legendaris Indonesia yang sangat konsern dengan kampanye lingkungan di Indonesia agar datang ke Wehea sekaligus membantu mempromosikan kearifan tradisional masyarakat adat Suku Dayak Wehea dalam upaya pelestarian hutan.
Bang Rosek (ProFauna) saat disambut secara adat Dayak Wehea
ProFauna saat diskusi di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur
Bang Rosek, koordinator team ProFauna pada kesempatan itu mengungkapkan bahwa SLANK sangat konsern dengan upaya pelestarian dan sangat terbuka peluang untuk kedatangan SLANK di Wehea seperti kunjungan SLANK ke Halmahera beberapa waktu lalu.
Ride for Borneo 2014
Sebelumnya, para aktivis ProFauna bertemu dengan Bapak Ledjie Taq, Kepala Adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing sekaligus melihat langsung sebuah atraksi budaya dalam pernikahan adat Dayak Wehea sekembalinya mereka dari kunjungan ke Hutan Lindung Wehea.

Ritual Adat Dayak Wehea sambut aktivis ProFauna di Nehas Liah Bing
Selain kunjungan ke Hutan Lindung Wehea, para aktivis ProFauna juga melakukan kunjungan ke SMA Negeri-1 Muara Wahau serta ke kawasan konservasi kebun yang dikelola oleh PT. DSN Group yang berkolaborasi dengan masyarakat adat Dayak Wehea.

Ritual Penyambutan ProFauna oleh Masyarakat Dayak Wehea
Team ProFauna yang didampingi oleh Pak Rustam seorang pengajar muda di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman juga mendapatkan sambutan dalam tradisi Suku Dayak Wehea yang dilaksanakan di Kompleks Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing sekaligus mendapatkan pemberkatan dari Pastor Paroki, Pater Lucius Tumanggor, SVD sebelum melanjutkan perjalanan ke Hutan Lindung Wehea Tlan-Long Suh.
Doa dan Pemberkatan oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD
Sebelumnya, dalam diskusi menjelang keberangkatan ke Hutan Lindung Wehea Tlan-Long Suh, Bang Rosek mengungkapkan bahwa telah ada kontak dengan IVAN salah satu personel SLANK bahwa SLANK siap untuk mengunjungi Wehea dan mereka menunggu kabar selanjutnya dari masyarakat Dayak Wehea. So, kita nantikan kabar selanjutnya, semoga SLANK dapat mengunjungi Wehea kelak.

Senin, 05 Mei 2014

Pro Fauna disambut secara adat Dayak Wehea

Ride for Borneo Disambut Secara Adat Dayak Wehea dan Pemberkatan Oleh Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing

Kabar Paroki
Selasa (06/05/14)

Bertempat di Kompleks Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kaltim, dilakukan penyambutan secara adat Dayak Wehea kepada tujuh orang aktivis Pro Fauna yang sedang melakukan kampanye Ride for Borneo di Kalimantan Timur pada Selasa (06/04/14).
Ride for Borneo 2014
Selain ritual penyambutan, juga dilakukan kepada para aktivis tersebut untuk melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Hutan yang dikelola oleh PT. RHOI yang berkolaborasi dengan masyarakat Dayak Wehea, juga dilakukan pemberkatan oleh Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Pater Lucius Tumanggor, SVD.

Diskusi di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing_Wehea, Kaltim
Sebelumnya, menurut Siang Geah yang pertama bertemu, kedatangan para aktivis Pro Fauna dalam program Ride for Borneo kali ini direncanakan tidak akan lama atau hanya akan berada di Wehea selama kurang lebih dua hari yang kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah Kabupaten Berau setelah kembali dari Hutan Lindung Wehea.
Ledjie Taq didampingi Pater Lucius Tumanggor, SVD, saat diskusi dengan Aktivis Pro Fauna (Ride for Borneo 2014)
Ritual Adat Wehea, menyambut aktivis Pro Fauna (Ride for Borneo-2014)
Sementara itu, Tatang, Koordinator Program RHOI di Wehea meneruskan apa yang diungkapkan oleh para aktivis Pro Fauna, bahwa mereka sangat terharu karena selama perjalanan mereka baru di Komunitas Dayak Wehea mereka disambut secara adat oleh masyarakat Suku Dayak Wehea yang diwakili oleh Bapak Ledjie Taq, Kepala Adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing serta Bapak Yunta, Kepala Desa Diaq Lay, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur dan juga secara agama.
Ritual Adat Wehea, menyambut aktivis Pro Fauna (Ride for Borneo-2014)
Pater Lucius Tumanggor, SVD, dalam sebuah diskusi di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing menyampaikan dukungannya pada kegiatan Ride for Borneo sembari berharap dimasa depan Pro Fauna juga dapat melakukan kegitannya di wilayah Wehea tentunya dengan berkolaborasi bersama masyarakat adat Dayak Wehea dan beberapa elemen lain yang telah bekerja untuk upaya pemberdayaan masyarakat serta pelestarian lingkungan hidup.

Mbak Made (Pro Fauna) saat dikenakan Gelang Merah
oleh istri Kepala Adat Wehea Nehas Liah Bing
Gereja Katolik dalam hal ini seperti di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing dengan tangan terbuka menerima dan menyambut kedatangan para aktivis dari Pro Fauna dalam kampanye Ride for Borneo tersebut dan apa yang mereka lakukan saya melihat sangat sejalan dengan misi Gereja Katolik untuk terus menyuarakan keadilan dan perdamaian serta turut terlibat secara langsung dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, salah satunya seperti yang ada dalam masyarakat adat Dayak Wehea, tambah Pater Lucius Tumanggor, SVD.
Bang Rosek dikenakan Gelang Merah Khas Suku Dayak Wehea oleh Ibu Lenyiei
Pada kesempatan yang sama, Ledjie Taq, Kepala Adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing yang pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana serta mewakili masyarakat Dayak Wehea untuk menerima penghargaan Kalpataru atas pengelolaan Hutan Lindung Wehea menjelaskan kepada para aktivis Pro Fauna sebelum melaksanakan ritual pelepasan bahwa sebenarnya yang dilakukan nanti boleh dikatakan sebagai sebuah ritual penyambutan, karena saat awal datang, kawan-kawan belum disambut secara adat.

Pemasangan gelang manik kepada aktivis Pro Fauna sebelum berangkat sekaligus mengangkat sebagai Sahabat WEHEA
Pada malam sebelumnya, bersama Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai, Ledjie Taq bersama beberapa tokoh masyarakat Desa Nehas Liah Bing melaksanakan pertemuan kecil untuk pelaksanaan ritual pada keesokan hari dan disepakati sesuai dengan informasi yang diterima bahwa ritual adat akan dilaksanakan pada pukul 07.30 Wita dan kemudian ditunjuk Bapak Musa Ba dan Bapak Bit Tot untuk mempersiapkan Telkeak sebagai salah satu bagian penting dalam ritual tersebut yang sekaligus juga akan dilakukan pemasangan gelang merah bagi seluruh crew Ride for Borneo.
Doa dan Pemberkatan oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD kepada seluruh aktivis Pro Fauna
Tepat pukul 08.00, ditengah pancaran mentari pagi, seluruh aktivis Pro Fauna berdiri berjajar diatas sebuah tikar rotan yang khusus disiapkan menghadapi sebuah Telkeak dari bamboo yang dihiasi untaian pengsut, yaitu semacam rautan dari kayu.
Doa dan Pemberkatan kepada aktivis Pro Fauna dari Pater Lucius Tumanggor, SVD, Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim
Dipimpin oleh Ledjie Taq, ritual pun dimulai dengan membacakan mantra untuk memohon kepada para dewa pelindung kampung serta para leluhur masyarakat adat Dayak Wehea dari Nehas Liah Bing, Dea Beq, Diaq Lay, Bea Nehas, Long Wehea dan Diaq Leway, agar menyertai perjalanan dari para aktivis lingkungan tersebut ke tempat tujuan dan selanjutnya ditempatkan sebuah telur ayam kampung pada Telkeak serta dilakukan pemotongan seekor anak ayam dan kemudian darahnya dicerakan pada dahi seluruh angora rombongan.

Aktivis Pro Fauna bersama Lembaga Adat Dayak Wehea, Kepala Desa Diaq Lay serta tokoh masyarakat dan Ranger's Hutan Lindung Wehea serta RHOI
Setelah selesainya ritual awal, kemudian didampingi oleh Ibu Musa Ba, Ibu Lenyiei (istri dari Ledjie Taq) kemudian melakukan pemasangan gelang merah kepada seluruh peserta sebelum melanjutkan perjalanan. Ledjie Taq, dalam penjelasannya mengungkkan bahwa pemasangan gelang tersebut dalam tradisi Suku Dayak Wehea selalu diberikan kepada orang-orang Wehea yang akan pergi ke dalam hutan, atau pada saat akan membuka ladang baru dan secara khusus pada ritual yang dilaksanakan tersebut, dengan pemasangan gelang merah, seluruh aktivis Pro Fauna telah disambut secara adat dalam tradisi Wehea sekaligus menjadi sahabat bagi masyarakat adat Wehea, demikian ungkap Ledjie Taq.
Ride for Borneo 2014 menuju Hutan Lindung Wehea Tlan-Long Suh

Pasca ritual adat dan pemberkatan secara agama Katolik, akhirnya seluruh aktivis Pro Fauna berangkat menuju Hutan Lindung Wehea Tlan-Long Suh, yaitu sebuah kawasan pelepasliaran Orang Utan yang dikelola oleh PT. RHOI dengan menggunakan 3 buah trail dan 1 unit kendaraan 4WD milik RHOI.

Pro Fauna Kunjungi Wehea

Pro Fauna Kunjungi Wehea

Kabar Wehea
Senin (04/05/14)

Tanpa diduga, tujuh orang aktivis Pro Fauna menyambangi Wehea dalam program berlabel Ride for Borneo dengan didampingi oleh Bang Rustam, yang juga merupakan salah satu pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimamtan Timur.

Bang Rosek bersama Musa Ba salah satu masyarakat adat Dayak Wehea
Dibawah koordinator Bang Rosek dengan menggunakan tiga buah trail serta didampingi oleh team teknisi yang menggunakan kendaraan 4WD para aktivis Pro Fauna melakukan perjalanan darat dengan titik awal di Kota Samarinda, Kalimamanta Timur.

ProFauna Ride for Borneo 2014
Rombongan Ride for Borneo dari Pro Fauna tiba di Bumi Wehea pada Jumat (02/05/14) dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Hutan Lindung Wehea pada Sabtu (03/05/14), sebuah kawasan konservasi kebanggaan masyarakat adat Dayak Wehea di Nehas Liah Bing dan bertemu dengan para Ranger Wehea yang disebut “Petkuq Mehuey”.

Sekembalinya dari Hutan Lindung Wehea, pada Minggu (04/05/14) para aktivis Pro Fauna kemudian mengunjungi Nehas Liah Bing dan bertemu dengan Kepala Adat Dayak Wehea Nehas Liah Bing, Bapak Ledjie Taq, orang Dayak Wehea yang pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta pada tahun 2008 mewakili masyarakat adat Dayak Wehea menerima penghargaan Kalpataru atas keberhasilan pengelolaan Hutan Lindung Wehea yang dilakukan oleh masyarakat adat Dayak Wehea.
Ritual Adat Dayak Wehea - Penyambutan bagi ProFauna
Rosek, Koordinator Ride for Bernoe, dalam diskusi pada Minggu malam mengungkapkan bahwa sebelumnya konsentrasi Pro Fauna lebih kepada satwa dan pada saat ini kita sedikit bergeser dan ingin terlibat langsung dalam upaya penyelamatan hutan dan kita telah mendengar tentang Wehea dan ingin melihat secara langsung apa yang ada di Wehea.
Ritual Adat bagi ProFauna di Kompleks Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur
Sesuai dengan rencana, bahwa pada Senin (05/05/14), team Ride for Borneo akan melakukan kunjungan ke beberapa sekolah dan termasuk mengunjungi kawasan Konservasi Kebun yang dikelola oleh PT. Dharma Satya Nusantara (DSN) Group, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dalam beberapa tahun terakhir sangat konsern dengan upaya pelestarian lingkungan termasuk mendukung upaya pelestarian dan pengelolaan Hutan Lindung Wehea.

Pemasangan gelang merah, sebuah lambang persahabatan dari Masyarakat Dayak Wehea kepada ProFauna
Selanjutnya, pada Selasa (06/05/14), team Ride for Borneo akan melanjutkan perjalanan ke Hutan Lindung yang dikelola oleh Yayasan RHOI yang bekerjasama dengan masyarakat adat Wehea di bantaran Sungai Telen, antara lain Desa Bea Nehas, Diaq Lay dan Dea Beq untuk melihat kegiatan yang dilaksanakan oleh RHOI.

Doa dan Pemberkatan dari Pater Lucius Tumanggor, SVD di Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing
Menjelang keberangkatan tersebut, pada malam sebelumnya, bersama Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, beberapa tokoh Dayak Wehea dan Lembaga Adat Dayak Wehea Nehas Liah Bing didampingi oleh Siang Geah, anggota DPRS terpilih dari Dapil-4, PDIP, melaksanakan pertemuan di Pastoran Paroki dan merencanakan untuk melepas team Ride for Borneo dalam tradisi Suku Dayak Wehea serta akan dilakukan pemberkatan oleh Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Pater Lucius Tumanggor, SVD yang akan didampingi oleh Pater Gabriel Maja, pastor yang pernah bertugas di Paroki Santa Maria Ratu Damai dan saat ini bertugas di Sumatra Utara.

ProFauan bersama masyarakat adat Dayak Wehea dan Pastor Paroki Nehas Liah Bing
Semoga misi mulia dari Pro Fauna melalui program Ride for Borneo dapat berhasil dan sukses……

Sabtu, 03 Mei 2014

Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kalimantan Timur

Kabar Paroki

Sabtu (03/05/14)



Sesuai dengan keputusan bersama DPP Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, bahwa perlu ada sebuah gerakan bersama serta percepatan termasuk dalam proses pembangunan pada beberapa gereja stasi yang dalam beberapa tahun ini mengalami persoalan pendanaan, diantaranya di Stasi St. Fransiskus Assisi (Desa Suka Maju - SP 5) dan Stasi Reinha Rosari (Desa Makmur Jaya - SP 3 Kong Beng) serta Desa Kong Beng Indah (SP-5 Kong Beng), yaitu Stasi Petrus Paulus dan Stasi Santo Martinus di Desa Karya Bhakti (SP-1 Pantun).

Keempat stasi tersebut merupakan basis utama Umat Katolik di Kecamatan Kong Beng dan Muara Wehea sehingga perlu mendapat perhatian bersama dari seluruh umat dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kaltim.

Mayoritas umat dari keempat stasi diatas bermatapencaharian sebagai petani dan mereka secara sadar dan bertanggung jawab terus berupaya untuk merealisasikan harapan dan mimpi mereka untuk berdirinya gereja di wilayah stasi mereka.

Melalui media ini, kami mengajak seluruh umat Katolik baik yang berada dalam wilayah paroki maupun diluar paroki serta para donatur yang ingin berpartisipasi dalam merealisasikan hal tersebut diatas agar dapat menghubungi pastor paroki atau melalui media ini.





 


SMPN-1 Kong Beng Rayakan Paskah Bersama di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kaltim



Siswa/i SMP Negeri-1 Kong Beng Rayakan Paskah Bersama

Kabar Paroki 

Sabtu (03/05/14)


Sekitar seratusan siswa SMP Negeri-1 Kong Beng merayakan Paskah bersama bertempat di Gereja Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur pada Sabtu (03/05/14).

Sejak pukul 16.00 Wita, para siswa/i telah berdatangan ke pusat paroki Santa Maria Ratu Damai dan berkumpul bersama untuk merayakan Paskah bersama. Tepat pukul 19.00 Wita, perayaan Paskah para siswa tersebut dilaksanakan dan diawali dengan perayaan Misa yang dipimpin oleh Pater Adi Manek, SVD.

Menurut Suster Caroline, SSpS, yang mendadi pendamping para siswa dan sekaligus menjadi Pengajar Agama Katolik di SMP Negeri-1 Kong Beng, perayaan Paskah bersama para siswa/i tersebut merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan setiap tahun dan selalu dipusatkan di Pusat paroki Santa Maria Ratu Damai. Hal tersebut juga sejalan dengan Visi SMPN-1 Kong Beng yang selain mengedepankan aspek pendidikan yang berkualitas, juga membangun karakter siswa agar memiliki akhlak mulia sehingga dimasa depan mereka dapat menjadi generasi yang berguna bagi bangsa dan tanah air.

Setelah selesai Ekaristi Kudus yang juga dimeriahkan oleh anggota koor SMPN-1 Kong Beng, didampingi Suster Caroline, SSpS dan Suster Inez, SSpS, dilaksanakan acara ramah tamah yang juga dihadiri oleh Pastor Paroki, Pater Lucius Tumanggor, SVD, dan Pastor Rekan, Pater Adi Manek, SVD.

Para siswa yang terlibat dalam perayaan Paskah bersama tersebut menyatakan kegembiraan dan sukacitanya karena dengan perayaan bersama tersebut mereka makin memahami makna Kebangkitan Kristus Sang Penebus Dunia.

Semoga dengan perayaan Paskah bersama tersebut akan semakin mempererat tali persaudaraan khususnya bagi para siswa/i SMP Negeri-1 Kong Beng sekaligus turut serta mengambil peran dalam berbagai kegiatan gereja dimasa depan (CWD).