Sabtu, 21 Desember 2013

Provinsial SVD Jawa Kunjungi Paroki Santa Maria Ratu Damai

Nehas Liah Bing (21/12/13)


Sesuai dengan rencana, akhirnya Pater Kadek, SVD selaku Provinsial SVD Jawa didampingi Pater Ngurah, SVD tiba di Nehas Liah Bing, sekira pukul 01.00 dinihari.

Kedatangan Pastor Provinsial SVD Jawa tersebut bersama dengan Pater Lucius Tumanggor, SVD, selaku Pastor Paroki bersama Bapak Siang Geah, Dewan ParokiSanta Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing yang menjemput langsung di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kedatangan Pater Kadek, SVD tersebut dalam rangka kunjungan ke paroki SVD di Nehas Liah Bing sekaligus merayakan Hari Raya Natal bersama umat di wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Perjalanan jauh dan sangat melelahkan tersebut tidak menyurutkan semangat Pater Kadek, SVD, juga Pater Ngurah, SVD, imam baru yang rencananya akan bertugas di Brazil, Amerika Selatan.

Pada tanggal 21 Desember 2013, setelah cukup beristirahat, Pastor Provinsial dan Pater Ngurah, SVD, didampingi oleh Pater Lucius, SVD serta Bapak Mat Eng, salah satu tokoh umat di Desa Diaq Leway melakukan kunjungan ke seluruh desa Wehea, diantaranya di Desa Diaq Leway, Long Wehea, Dea Beq, Diak Lay dan Bea Nehas.

Kunjungan Provinsial tersebut layaknya sebuah oase bagi para tokoh serta umat Katolik, khususnya dalam Komunitas Suku Dayak Wehea, bahwa dengan kunjungan tersebut, seoralah menjadi sentuhan kasih bagi umat yang tersebar di 6 kampung tersebut.......

(bersambung)..............

Selasa, 07 Mei 2013

Suster Louis, SSpS Menuju Tanah Misi Baru

Suster Perintis itu akhirnya Menuju Tanah Misi Baru

Nehas Liah Bing (8/5/3)


Bertempat di Pastoran Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Suster Louis, SSpS yang akrab disapa Nenek, akhirnya mengucapkan salam perpisahan kepada segenap umat di Nehas Liah Bing.

Puluhan umat dari beberapa stasi mengukuti acara ramah tamah sekaligus perpisahan bersama Suster Louis, SSpS, yang juga dihadiri oleh Suster Hermine, SSpS, sebagai kepala biara Sanctisima Trinitas Nehas Liah Bing.

Suster Louis, SSpS, yang pada akhir dari acara perpisahan tersebut mengungkapkan kesan dan pengalaman pelayannya selama di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Saya tidak tahu harus bicara apa lagi, saya hanya bisa menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada seluruh umat, sejak awal kami disini pada tanggal 29 Mei 2009, kami diterima disini secara adat Suku Dayak Wehea, kami diterima dan diikat sebagai saudara disini.

Ditambahkan Suster Louis, SSpS, bahwa sejalan dengan permintaan dari Bapak Uskup Agung Samarinda, beliau menyampaikan kepada kami pada saat itu, suster, tolong ingat dan bantu komunitas saya, orang-orang Dayak (Wehea) disana, bantu mereka dan bangun mereka. Sebuah pesan sederhana dari Sang Gembala, Yang Mulia Mgr. Florentinus Sului, MSF, pada saat itu menjadi pelecut bagi kami untuk maksimal melayani umat di paroki ini.

Selama dalam pelayanan disini, saya sering merepotkan para ibu-ibu yang terkadang saya minta untuk mengantarkan saya kemana-mana untuk menemui umat yang tersebar di beberapa stasi, bersama-sama dengan kaum jompo dan lainnya untuk membawa mereka agar semakin mengenal sang gembala abadi, mengenal Yesus.

Pada awal karya, kami menempati rumah kontrakan yang sebenarnya sangat tidak aman, karena beberapa kali kami diganggu, bahkan pernah rumah biara dilempar batu oleh orang-orang yang mungkin sedang mabuk. Pada saat itu hanya ada Suster Martha, SSpS, sendirian di biara, dia menangis entah harus berbuat apa, tetapi sebuah ucapan syukur bahwa kami tidak sendiri, karena kami juga sangat sering dikunjungi oleh umat yang datang berkunjung ke biara.

Kini, setelah hampir 3 tahun sebelumnya menempati rumah kontrakan, akhirnya berkat Tuhan, bahwa kami kemudian menempati rumah Biara yang baru, yang walalupun sepi dipinggir hutan, kami merasa sangat tenang, karena kami merasa diperhatikan oleh seluruh umat. Dan sejak awal, kami sama sekali tidak merasa asing disini, tutur Suster Louis, SSpS.

Sebuah pengalaman luar biasa juga sempat diceritakan Suster Louis, SSpS, saat bertugas pada sebuah paroki di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Saya menangis, saat Misa hari minggu, hanya sedikit atau segelintir umat saja yang hadir. Kemana mereka? Tanya saya pada saat itu kepada Pastor Paroki. Saya yang baru bertugas di paroki itu pada saat itu akhirnya diserahi tugas mulia oleh Pastor. Baiklah, besok Suster keliling untuk mencari umat. Sebuah pengalaman luar biasa, kami harus masuk keluar hutan, menyeberangi sungai, demi mencari domba-domba yang hilang, ungkap Suster Louis.

Sebuah semangat persaudaraan, baik didalam komunitas maupun dengan seluruh umat telah menghantarkan langkah kaki saya hingga disini, dan sebentar lagi akan menuju ke tanah misi yang baru. Saya yakin, bahwa saya tidak berbuat sesuatu disini, tetapi saya percaya bahwa Yesuslah yang berkarya, Dia-lah yang bekerja, saya hanya sebagai alat yang digunakan Tuhan untuk melayani domba-domba, melayani umat yang tersebar di paroki ini.

Pada akhir pesannya, Suster Louis, SSpS berharap agar karya yang telah dimulai ditempat ini dapat diteruskan, termasuk beberapa rencana yang telah disusun bersama, dan tidak lupa juga meminta maaf kepada seluruh umat, mungkin kehadiran saya ada yang tidak berkenan, atau mungkin saya pernah salah pada umat, saya mohon maaf, dan mohon doa dari umat agar saya selalu kuat menuju tanah misi yang baru, serta tolong sampaikan salam saya kepada umat lainnya yang mungkin tidak sempat bertemu muka dengan mereka.

Suster Louis, SSpS, seorang suster yang kini mulai menapaki usia senjanya, tetap semangat untuk melanjutkan karya, mengikuti jejak Sang Gembala, untuk meretas jalan ditanah misi yang baru, untuk kembali dalam sebuah perutusan, mencari domba-domba yang tersesat dan hilang.

Semoga terus berkarya suster, dan semoga selalu dalam Lindungan-NYA.

Sabtu, 23 Februari 2013

Perkumpulan Guru-Guru Katolik di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing


Inisiasi Pembentukan Persatuan Guru Katholik di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur


Nehas Liah Bing (23/2/13)

Bertempat di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur, dilakukan pertemuan yang digagas oleh beberapa orang guru yang beragama Katolik dari Kecamatan Muara Wehea dan Kung Beang.

Heribertus, salah satu guru yang berasal dari Desa Sukamaju, Kecamatan Kung Beang, sebelum pertemuan mengungkapkan bahwa rencana pertemuan tersebut telah dikoordinasikan dengan Pastor Lucius Tumanggor, SVD, selaku pastor di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.

Ditambahkan Heri, bahwa pada pertemuan awal tersebut, agar kiranya dapat terbentuk terlebih dahulu para pengurus organisasi, yang nantinya dapat dijadikan pijakan awal bagi kita untuk melangkah lebih jauh.

Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk melakukan inisiasi pembetukan sebuah organisasi atau perkumpulan para guru, bukan hanya sebatas Guru Agama Katolik saja, tetapi semua guru-guru yang beragama Katolik yang tersebar pada beberapa kecamatan dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh para guru dari dua wilayah, yaitu Kecamatan Muara Wehea dan Kecamatan Kung Beang sebanyak 15 orang. Masih banyak guru-guru beragama Katolik yang tersebar dalam beberapa kecamatan dalam wilayah paroki, dan para pertemuan-pertemuan selanjutnya diharapkan semakin banyak para guru beragama Katolik yang dapat terlibat.

Pada awal pertemuan, Pater Lucius Tumanggor, SVD, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa sebuah organisasi sangat dibutuhkan, termasuk dalam kelompok-kelompok juga dengan hal para guru-guru yang beragama Katolik.

Persatuan guru-guru Katolik, nantinya harus dapat mengemban tugas misi, baik secara internal, maupun eksternal, sehingga organisasi yang akan dibentuk itu dapat memberi warna baru dalam pengembangan paroki ini dimasa depan. Pater Lucius, SVD, juga menyampaikan bahwa dalam Kongregasi SVD, juga terdapat kelompok-kelompok SVD awam seperti Soverdia.

Sementara itu, beberapa guru yang hadir menyampaikan bahwa sebagai awal, sebaiknya kita memilih para pengurus terlebih dahulu dan atas dasar saling percaya sesama saudara seiman, akhirnya system pemilihan tanpa melalui mekanisme baku, tetapi dengan penunjukan langsung dan disepakati oleh seluruh peserta pertemuan.

Terpilih sebagai ketua perkumpulan para guru Katolik yang pertama adalah Bapak Heribertus yang juga merupakan Guru Agama Katolik sekaligus sebagai Katekis dari Desa Sukamaju, Kecamatan Kung Beang, dan sebagai wakilnya adalah Bapak Fransiskus Saverius, 2 orang sekretaris, yaitu Ibu Ermilinda Ermin dan Ibu Maria Magdalena Endreni, serta bendahara oleh Ibu Kristina Rosalinda Bunga Wanda.
Selain pengurus inti, juga ditetapkan 2 bidang utama (seksi) yang akan menjadi bidang inti dari Perkumpulan SoVerDia tersebut, yaitu seksi Liturgi (Bapak Yohakim) dan Katakese (Suster Karolina) serta 2 bidang pendukung, yaitu Humas (Bapak Makabius Basa) dan Dokumentasi (Ibu Veni Revensia Bulan). Sementara sebagai pelindung dan penasihat adalah Pater Lucius Tumanggor, SVD dan Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.

Seluruh organisasi Katolik, tidak terlepas dari keberadaan Gereja Katolik itu sendiri, sama halnya yang ada di Paroki Santa Maria Ratu Damai, maka kehadiran perkumpulan SoVerDia yang menjadi wadah bagi para guru yang beragama Katolik dan tersebar di 4 kecamatan dalam wilayah Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing secara otomatis akan berada dibawah paroki, sehingga pelindung dan penasihatnya adalah pastor paroki serta DPP St. Maria Ratu Damai.
 
Dalam pertemuan tersebut, selain memilih para pengurus serta beberapa seksi, juga disepakati nama perkumpulan tersebut, dan sesuai dengan saran dari Pater Lucius Tumanggor, SVD, dipilih nama SoVerDia sebagai nama perkumpulan yang kelak menjadi wadah bagi semua guru yang beragama Katolik dan yang tersebar di Kecamatan Muara Wehea, Kung Beang, Telen dan Batu Ampar.
 
Dewasa ini, tugas-tugas pewartaan bukan hanya menjadi tugas dari para pastor saja, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama termasuk kelompok awam, yang didalamnya juga termasuk para guru yang beragama Katolik, dan hal tersebut merupakan sebuah tugas mulia, penuh tantangan dan para guru Katolik diharapkan dapat memberikan contoh serta menjadi teladan yang baik kepada masyarakat.

Dimasa kini dan dimasa depan, para guru yang beragama Katolik diharapkan memiliki komitmen yang kuat serta tangguh dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman, serta harus menjadi guru profesional dengan terus meningkatkan ilmu pengetahuan dan harus menguasai teknologi moderen saat ini, sehingga dengan hadirnya perkumpulan SoVerDia ini dapat member warna baru dalam kehidupan menggereja dalam seluruh wilayah paroki, juga dapat menjadi contoh dan teladan bagi sesama manusia.

Suster-Suster SSpS Siap Kembangkan PG/TK di Nehas Liah Bing


Pendidikan: Karya Suster SSpS berikutnya di Nehas Liah Bing


Nehas Liah Bing (19/2/13).


Sesuai dengan amanat dan keputusan Rapat Pleno DPP St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing_Wehea_Kalimantan Timur, pada tanggal 7-8 Pebruari 2013, bahwa Komunitas Suster SSpS Sanctissima Trinitas Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim, ditunjuk untuk segera melakukan persiapan program pendidikan untuk anak usia dini dengan kosentrasi pada PG/TK.

Pater Thomas Sudarmoko, SVD, selaku Pastor Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing (sebelum pindah tugas) menyampaikan bahwa dengan disepakatinya agar Komunitas Suster SSpS segera memulai karya pendidikan di wilayah pusat paroki, maka langkah-langkah kongkrit harus segera diambil oleh komunitas SSpS disini. Silakan gunakan gedung gereja yang lama sebagai awal untuk memulai karya itu, ujar Pater Thomas, SVD.

Senada dengan Pater Thomas, SVD, Suster Hermine, SSpS, selaku Ketua Komunitas SSpS Sanctisimma Trinitas Nehas Liah Bing mengungkapkan rasa haru dan gembira, bahwa mimpi untuk melakukan pelayanan dan karya dibidang pendidikan telah direstui oleh pemangku wilayah paroki.

Menyikapi hal tersebut, dalam kesempatan yang berbeda tanggal 6 Pebruari 2013, Komunitas Sanctissima Trinitas Nehas Liah Bing mendapat kunjungan dari Pimpinan Kongregasi SSpS Provinsi Kalimantan dari Palangkaraya.

Kedatangan pimpinan kongregasi tersebut juga dimanfaatkan oleh para suster di Nehas Liah Bing untuk mendiskusikan dan memantapkan rencana untuk mengembangkan karya pendidikan di pusat paroki.

Suster Hermine, SSpS, dalam sebuah percakapan di Biara SSpS Nehas Liah Bing mengungkapkan, selain rasa gembira karena telah direstui oleh Pastor Paroki saat Pleno DPP Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, pada saat ini terdapat sebuah ganjalan besar yang dihadapi oleh komunitas SSpS disini, yaitu persoalan pendanaan untuk memulai kegiatan tersebut.

Gedung telah ada, dan perlu dilakukan beberapa pembenahan, diantaranya pembuatan sekat ruangan, sarana permainan, termasuk pagar bagian depan gereja. Secara prinsip kami siap untuk memulai rencana dan karya pendidikan tersebut, tetapi kami berharap kiranya ada pihak yang mau membantu baik secara perorangan ataupun kelembagaan, untuk dapat membantu kami dalam memulai karya ini.

Sebuah mimpi besar, sebagai sebuah jalan untuk membangun sebuah karya pendidikan, diperlukan sebuah kesiapan dari segala aspek, termasuk pendanaannya. Semoga karya para Suster SSpS dapat terus berjalan, seiring dengan dinamika perkembangan yang semakin pesat diwilayah ini, sekaligus mengambil peran dalam rangka mendukung pengembangan sumberdaya manusia di wilayah ini.

Pendanaan, walaupun saat ini menjadi kendala, tetapi dengan sumberdaya apapun yang ada saat ini, para Suster SSpS menyatakan siap untuk memulai tentunya dengan segala keterbatasan yang ada.

Semoga sukses, Tuhan Memberkati....Amin.



Note:

Bagi para donatur yang ingin membantu terlaksanya program dan karya pendidikan ini dapat menghubungi langsung para suster SSpS Nehas Liah Bing atau melalui alamat email dan nomor telepon: 
1. santamaria.rd@gmail.com
2. cringgi@gmail.com
3. Chris Djoka: 0821 5552 3322
4. Sr. Louis, SSpS: 085252992412

Kamis, 31 Januari 2013

ST. ARNOLDUS JANSSEN PENDIRI TIGA KONGGREGASI


 
JALAN HIDUP & RAHASIA KEBERHASILAN


Arnoldus Janssen dilahirkan pada 5 November 1837 di Goch, dataran rendah sungai Rhein. Ayahnya bernama Gerhard Janssen dan ibunya Anna Katharina Wellesen. Allah mengaruniakan pasangan itu sebelas anak, tiga diantaranya meninggal dalam usia kanak-kanak. Dari tujuh anak bersaudara bersama dengan Arnoldus, lima saudara dan dua saudari, yang menikah adalah saudarinya tertua yakni Margaretha dan saudara-saudaranya Gerhard, Peter dan Theodor. Hanya Peter tidak mempunyai anak. Seorang saudaranya yang lain, Wilhelm, menjadi bruder dalam ordo Kapusin dengan nama Juniperus. Saudaranya yang bungsu, bernama Yohanes, lahir pada 15.10.1853, enam belas tahun lebih muda dari Arnoldus. Dia disuruh Arnoldus supaya belajar. Sebagai diakon dia bergabung dengan Arnoldus ketika dia baru saja mendirikan Rumah Misi. Kemudian Yohanes menjadi imam dan menjadi seorang pembantu yang sangat penting bagi Arnoldus, tapi sudah meninggal pad 1898 dalam usia 44 tahun.
Sesudah tiga tahun di sekolah rakyat (1844-1847) dan sesudah satu tahun persiapan pada sebuah sekolah rektorat kecil yang baru saja dibuka di Goch, Arnoldus diterima pada gymnasium keuskupan di Gaesdonck pada perbatasan Belanda dekat Goch. Sebagai siswa ekstern dia menamatkan SMA di Münster pada 1855. Meskipun dia sudah berpikir untuk menjadi imam, - waktu itu umurnya 18 tahun - dia lalu belajar, mengikuti keinginannya, mula-mula matematika dan pengetahuan alam di Münster (1855-1857) dan di Bonn (1857-1859) lalu dia dapat menyelesaikan pelajaran-pelajaran ini dengan memperoleh wewenang mengajar untuk semua vak pada gymnasium. Dalam musim panas 1859 dia mulai dengan studi teologi, yang dilanjutkannya di Münster dalam musim gugur 1859. Pada tanggal 15 Agustus 1861 dia menerima tahbisan imam dalam Katedral di Münster.

Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, imam muda Janssen ditunjuk oleh Uskupnya sebagai pengajar pada Höheren Bürgerschule di Bocholt (Westfalen). Di situ dia bertugas selama 12 tahun sebagai pengajar matematika dan ilmu pengetahuan alam, sekaligus memberikan pelayanan pastoral dalam paroki St. Georg di kota itu. Sejak 1865 dia mulai giat untuk "Kerasulan Doa", mula-mula sebagai "promotor", kemudian sejak 1869 sebagai direktur diosesan dalam keuskupan Münster. Untuk anggota-anggota perhimpunan doa itu dia menyusun sebuah "Buku kecil untuk penerimaan anggota Kerasulan Doa" dan sebuah "Pedoman kecil untuk Doa Bersama" yang disebarluaskannya sendiri dengan giat. Untuk bisa lebih bebas melayani kegiatan apostolis sebagai imam yang sudah dimulainya itu, dia minta supaya dibebastugaskan sebagai pengajar di Bocholt pada 1873, lalu dia menjadi kaplan untuk suster-suster Ursulin di Kempen. Mulai Januari 1874 dia menerbitkan sebuah majalah populer dengan nama "Kleiner Herz-Jesu-Bote" (Utusan Kecil Hati Yesus), dengan maksud mencari pelanggan untuk membantu Misi "intern", yakni di tanah airnya dan terutama untuk membantu Misi "ekstern" yakni Misi di antara orang kafir. Tidak lama kemudian dia sudah menguraikan dalam majalahnya tentang perlunya mendirikan sebuah Rumah Misi di Jerman untuk mendidik misionaris-misionaris.

Dalam bulan Mei 1874 Arnoldus Janssen bertemu dengan Mgr. Raimondi, peserta pendiri seminari Misi di Milano, Prefek Apostolik dan tidak lama kemudian Uskup di Hongkong, yang kebetulan menjadi tamu pastor Ludwig von Essen di Neuwerk dekat Mönchengladbach. Atas desakan Uskup Raimondi, bahwa jika tidak ada seorang yang mau bertindak, maka hendaknya Janssen sendiri mendirikan Rumah Misi yang diperlukan itu. Dan akhirnya, pada tanggal 8 September 1875, bertempat di Steyl, dalam distrik Tegelen, Belanda, Arnoldus Janssen membuka Rumah Misi "St. Mikhael", yang menjadi Rumah Induk "Serikat Sabda Allah".

Kendati permulaan yang sangat sederhana dan kendati serba kesulitan intern selama setengah tahun pertama, tanpa disangka-sangka telah mulailah perkembangan Rumah Misi dan Serikat Misi. Tahun demi tahun dapat didirikan bangunan yang baru. Jumlah siswa dan calon bruder senantiasa bertambah demikian rupa, sehingga rumah itu pada 1900 sudah menampung sekitar 650 orang, yaitu sekitar 45 imam, 290 bruder dan novis bruder dan hampir 320 siswa. Dalam sebuah percetakan milik sendiri diterbitkan mula-mula hanya "Der Kleine Herz-Jesu-Bote", tapi sejak 1878 juga majalah bulanan "Stadt Gottes" dan sejak 1880 "St. Michaelskalender". Dalam musim gugur 1877 dimulai dengan suatu gerakan khalwat, yang dari tahun ke ahun menarik ratusan, bahkan ribuan imam dan awam, pria dan wanita untuk mengikuti hari-hari retret dalam Rumah Misi dan dengan demikian memperkenalkannya dalam lingkungan-lingkungan lebih luas. Tapi Rumah Misi itu terlebih lagi diperkenalkan lewat majalah-majalah, yang mencapai oplah yang tinggi. Pada saat kematian Pendiri (1909), "Der Kleine Herz-Jesu-Bote" (kemudian menjadi "Steyler Missionsbote") mempunyai 41.000 pelanggan, "Stadt Gottes" 220.000, "St. Michaelskalender" malahan 655.000, di samping itu edisi Belanda dengan oplah 48.000. Lebih dari 63.600 orang, baik pria maupun wanita telah ambil bagian pada 592 retret di Rumah Misi.

Sejak 1888 telah dibuka cabang-cabang Serikat lebih lanjut: di Roma (St. Rafael), Mödling dekat Wina (St. Gabriel), Neisse, Slesia (Heiligkreuz), di Saarland (St. Wendel), Bischofshofen, Salzburg (St. Rupert), dan akhirnya dalam musim panas 1908 diambil keputusan untuk membuka Rumah Misi yang pertama di Amerika Serikat: St. Mary's di Techny dekat Chicago. Masih dalam hidupnya Arnoldus Janssen telah mengambil alih daerah-daerah Misi dan wilayah-wilayah karya di semua benua. Dia sendiri dapat mengutus lebih dari 800 misionaris (333 imam, 187 bruder, 301 suster) ke: Cina (Shantung Selatan), Togo, Papua Nugini, Jepang, Argentina, Brasilia, Chile dan Paraguay, ke Amerika Utara, juga untuk karya Misi di antara orang-orang Negro yang sangat terlantar di negara-negara selatan. Perundingan-perundingan mengenai kegiatan di Filipina hampir diakhiri, sehingga pada 1909 misionaris-misionaris dari Steyl bisa datang ke pulau-pulau ini.

Sejak mula Arnoldus Janssen sudah memahami pentingnya keterlibatan suster-suster dalam kegiatan Misi, tapi baru pada 1889 dia mendirikan serikat suster-suster "Abdi-abdi Roh Kudus", yang berkembang demikian pesat, sehingga pada 1909 sudah ada sejumlah 450 suster Misi yang berkaul, 80 novis dan 30 postulan. Di Argentina, Togo, Papua Nugini, USA, Brasilia, Shantung Selatan (Cina) dan Jepang suster-suster SSpS sudah bekerja di samping para imam dan bruder. Pada waktu mendirikan kongregasi suster-suster Misi sudah dipikirkan mengenai satu cabang untuk suster-suster Adorasi Abadi yang dibentuk pada 1896 dan telah berkembang sebagai satu kongregasi tersendiri yakni suster-suster "Abdi-abdi Roh Kudus dari Adorasi Abadi". Pada 1909 jumlah mereka 30 suster, termasuk novis-novis dan postulan-postulan.

Karya yang dibangun dan dikembangkn oleh Arnoldus Janssen, dipimpinnya juga dengan seluruh tenaga pribadinya sampai dengan penyakit pitam yang dideritanya pada akhir Oktober 1908. Ketika ia tutup usia pada 15 Januari 1909, ia meninggalkan karya Misi dari Steyl yang terdiri dari tiga serikat Misi itu dalam keadaan demikian mantap, sehingga selama dasawarsa-dasawarsa berikut, kendati menghadapi krisis serta kerugian yang besar akibat dua perang Dunia dan dalam masa nasional sosialisme, dapat berkembang terus dan menjadi salah satu dari antara serikat-serikat Misi terbesar di dalam Gereja.


Rahasia Keberhasilan: Arnold Janssen - Seorang Kudus
Kehidupan dan karya Arnoldus Janssen memberikan kesan yang demikian kuat, sehingga orang harus berkata: dia telah melaksanakan sesuatu yang luar biasa. Rasanya sukses-sukses karyanya lebih mengagumkan, bila orang ingat bahwa sejak masa mudanya dia menunjukkan dengan jelas batas-batas kemampuan dan batas-batas aslinya. Pada gymnasium di Gaesdonck dia harus mengulang kelas III. Hal itu bisa dimengerti, karena memang persiapan pada sekolah rektorat di Goch tidak mencukupi. Tapi dia sendiri beberapa kali mengakui bahwa di gymnasium itu dia sungguh-sungguh harus membanting tulang. Tentang itu dia mengungkapkan dalam kenangan-kenangannya yang didiktekannya kepada P. Reinke. Pada 1902 dia berkata kepada sekretarisnya P. Jakob Koch: "Sampai sekarang saya tidak mengerti bagaimana sampai terjadi waktu itu (1849) sehingga saya dapat diterima di Gaesdonck, padahal saya jauh lebih lemah dari semua yang lain. Dalam hal studi saya sama sekali tidak pernah cemerlang, hanya satu kali saya sampai mendapat pujian pada censur, tapi tidak pernah sampai mendapat bonus". Tapi dia berusaha sungguh-sungguh dan dapat mencapai hasil-hasil yang baik dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam, dan meskipun di bidang bahasa dia tetap lemah, namun sebagai siswa ektern dia bisa lulus dalam ujian akhir di Münster pada 1855.

Di Bocholt dia adalah seorang yang bekerja teliti, penuh perhatian, tapi bukan seorang guru yang cemerlang, sebagaimana kemudian disaksikan oleh banyak di antara siswa-siswanya. Selama hidupnya dia tetap seorang yang dalam bekerja agaknya lebih lamban dan pelan. Beberapa kali dia menyatakan rasa kagumnya bahwa P. Blum bias bekerja lebih mudah dan cepat. Satu hal yang menegaskan penilaian ini ialah juga pendapat yang negatif dari orang-orang yang mengenalnya, apabila mereka mendengar tentang rencana-rencananya mengenai pembangunan Rumah Misi.

Bagaimana dapat dijelaskan, bahwa Arnoldus Janssen kendati batas-batas kemampuannya yang demikian dapat menyelesaikan dengan cara yang begitu berhasil tugas yang diberikan Allah kepadanya, yakni mendirikan dan meluaskan karya Misi dari Steyl itu dengan segala tuntutannya? - P. Hermann Fischer menulis dalam usaha untuk memahami lebih baik pribadi Pendiri Serikat-serikat Misi dari Steyl itu, yang oleh begitu banyak orang disalahpahami tapi dikagumi, sebagai berikut: "Kunci untuk mengetahui watak Arnoldus Janssen yang sulit dipahami itu ialah penalaran dan penilaiannya yang sangat bersifat asketis. Baginya adalah suatu hal yang hampir kodrati, bahwa ia melihat dan memperlakukan segala sesuatu yang dihadapinya dari sudut pandangan adikodrati".

Dengan sesungguhnya, dalam hidup pribadi dan juga dalam semua rencana dan tindakannya dia adalah pada intinya satu pribadi yang ditentukan oleh sikap dasar religiusnya. Dia adalah seorang yang sangat mesra bersatu dengan Allah dan pasrah kepada Allah. Maka kita boleh mengatakan: dia adalah seorang kudus, sebagaimana diakui oleh Gereja dengan menggelarnya sebagai Yang Bahagia. Sangat tepat ialah ungkapan tentang pribadi dan karya Pendiri Serikat-serikat Misi dari Steyl itu juga seperti terdapat dalam judul sebuah gambar bersuara oleh P. Johann Rzitka SVD: "Seorang yang percaya, yang berani bertindak", dan dalam judul buku riwayat hidup Arnoldus Janssen oleh Udo Haltermann "Seorang beriman menempuh jalannya". Sikap iman yang kokoh itu telah memungkinkan karya Arnoldus Janssen dan telah menguduskannya di dalam pelaksanaan tugas hidupnya.



 
ST. ARNOLDUS JANSSEN PENDIRI TIGA KONGGREGASI

http://yesaya.indocell.net/d360a0a0.gif  SVD = Societas Verbi Divini = Serikat Sabda Allah didirikan pada tanggal 8 September 1875 di Steyl, Belanda; sebuah serikat untuk para imam dan bruder.

http://yesaya.indocell.net/d360a0a0.gif  SSpS = Congregatio Servarum Spiritus Sancti = Serikat para Suster Misi Abdi Roh Kudus didirikan pada tanggal 8 Desember 1889 di Steyl, Belanda.

http://yesaya.indocell.net/d360a0a0.gif  SSpS Ap = Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua = Serikat para Suster Abdi Roh Kudus Adorasi Abadi didirikan pada tanggal 8 Desember 1896 di Steyl, Belanda.
http://yesaya.indocell.net/1x1.gif

SVD, sejak awal berdirinya, dikhususkan oleh St. Arnoldus Janssen untuk karya misioner di seIuruh dunia, terutama di tempat di mana Injil belum dikenal. Sasaran misi pertama SVD adalah Cina. Kini SVD telah merentangkan sayapnya ke lima benua, yaitu Asia, Australia, Amerika, Afrika dan Eropa.

SPIRITUALITAS SVD
SVD mempunyai dua semangat dasar yang menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan seluruh karya misinya:

1.  Spiritualitas Triniter

Kasih kepada Allah Tritunggal menjadi fundamen hidup dan kekuatan bagi kerasulan SVD. Inilah inti pati dan kekuatan guna membantu semua orang dan anggotanya untuk memperoleh kepenuhan martabat manusia, yakni dalam mengambil bagian hidup komunitas Allah Tritunggal dalam hubungan yang mesra dan dengan semua manusia dalam Allah Tritunggal. Hal ini diwujudkan dengan semangat hidup berkomunitas persaudaraan dan internasionalitas.

2. Spiritualitas Misioner

Sebagaimana Bapa mengutus Putra, dan Bapa serta Putra mengutus Roh Kudus, demikian juga SVD ingin mengambil bagian dalam tugas perutusan, mewartakan Sabda Allah sebagai seorang misionaris.

BIDANG KARYA SVD

Karya misioner sesuai dengan kharisma SVD. Oleh karena itu para anggota SVD terjun langsung sebagai pelayan pastoral teritorial maupun kategorial misioner.

Bidang karya yang mendapat prioritas utama:

http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifKerasulan Kitab Suci
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifPendidikan dan pembentukan komunitas religius misioner, termasuk animasi misioner dan pengembangan kesadaran misioner Gereja universal; dialog antar agama.
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifPenelitian dan pendidikan misiologis.
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifMedia komunikasi dan media: percetakan, penerbitan, majalah, surat kabar, radio / TV, studio rekaman.
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifKeadilan dan perdamaian (JPIC), termasuk karya pastoral misioner wilayah pinggiran / rintisan; pelayanan kelompok-kelompok tersisih.
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifKerasulan Keluarga.
http://yesaya.indocell.net/Symb075c00b700f000000000.gifPendidikan formal dan non-formal / kejuruan dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi.