Minggu, 22 Juni 2014

Komuni Pertama di Stasi St. Martinus, SP-1 Pantun



KOMUNI PERTAMA DI STASI ST. MARTINUS, SP-1 PANTUN, DESA KARYA BHAKTI, WEHEA, KALTIM

Kabar Paroki (22/06/14)


Sebanyak 12 anak mengikuti penerimaan Sakramen Komuni Pertama pada Minggu (22/06/14) yang dilaksanakan di Stasi St. Martinus, SP-1 Pantun, Desa Karya Bhakti, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim.
gereja stasi st. martinus sp-1 pantun, karya bhakti, wehea, kaltim
Sebelum dilaksanakan penerimaan Sakramen Komuni Pertama, anak-anak calon penerima Komuni Pertama melaksanakan persiapan selama kurang lebih 2 bulan dan didampingi langsung oleh para pendamping dari Stasi St. Martinus.
bersiap untuk komuni pertama di stasi st. martinus
Misa Penerimaan Sakramen Komuni Pertama dipimpin oleh Pater Adi Manek, SVD, dan diikuti oleh ratusan umat stasi yang meluber hingga keluar gereja karena keterbatasan daya tampung gereja. Dalam homilinya, Pater Adi Manek, SVD mengungkapkan bahwa pada hari ini, bersamaan dengan penerimaan Sakramen Komuni Pertama, anak-anak kita ini akan terlibat secara penuh dalam gereja dan dalam tradisi Katolik, Kristus hadir bersama-sama dengan mereka.
anak-anak penerima komuni pertama
Pelaksanaan Misa Penerimaan Sakramen Komuni Pertama kali ini terasa berbeda seperti diungkapkan Bapak Berti bahwa sejak tahun sebelumnya sesuai dengan anjuran dari Pastor Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, agar umat di stasi-stasi juga terlibat aktif dalam upaya pelestarian adat istiadat dan budayanya, sehingga pada tahun ini kita menekankan kepada seluruh anak-anak yang menerima komuni pertama bersama orang tuanya untuk mengenakan busana tradisional sebagai sebuah jawaban langsung dan nyata atas anjuran tersebut.
suasana misa komuni pertama di stasi st. martinus
Seperti yang terlihat hari ini, suasana Misa sangat kental dalam balutan budaya, khususnya dari budaya Lio-Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur yang kebetulan juga mayoritas umat dari stasi tersebut didominasi oleh masyarakat dari Nusa Tenggara Timur.

seorang anak penerima komuni pertama
Pasca selesainya Misa Penerimaan Sakramen Komuni Pertama, keduabelas anak berserta orang tuanya kemudian berbaris di depan gereja untuk mendapatkan ucapan selamat dari seluruh umat stasi dan kemudian kembali ke rumah masing-masing.
Tampak jelas kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak yang hari itu merayakan sebuah hari istimewa dalam kehidupan menggereja dimana mereka secara penuh memiliki hak untuk menerima tubuh dan darah Kristus.

Saatnya Pesta

Seperti layaknya sebuah tradisi yang telah berlangsung lama di Flores (NTT), kebiasaan untuk melaksanakan pesta meriah juga merebak hingga ke perantauan. Hal tersebut terlihat dari meriahnya acara pesta yang dilaksanakan oleh seluruh keluarga dari kedua belas anak tersebut.

Penerimaan Komuni Pertama dipimpin oleh Pater Adi Manek, SVD
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, penerimaan Sakramen Komuni Pertama tentu selalu dimeriahkan dengan pesta dan menurut beberapa warga, pestanya bisa lebih meriah dan besar dibandingkan dengan pesta pernikahan.

Hal tersebut dapat terjadi karena para orang tua bersama keluarga besar mereka merasakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa karena anak mereka telah memiliki hak penuh untuk menyambut tubuh dan darah Kristus.
memberikan ucapan selamat kepada anak-anak penerima komuni pertama
Semoga kemeriahan tersebut tidaklah sementara seperti diungkapkan Pater Adi Manek, SVD bahwa pasca menerima Komuni Pertama anak-anak tersebut harus lebih aktif untuk mengambil peran dalam kehidupan menggereja dan para orang tua dituntut untuk terus memberikan semangat dan contoh-contoh positif kepada anak-anak mereka sekaligus memberikan teladan yang baik kepada mereka sehingga dimasa depan anak-anak tersebut akan menjadi tulang punggung gereja dalam mewartakan kabar sukacita kepada seluruh dunia (adm).

Kamis, 19 Juni 2014

Pemberkatan Nikah di Stasi St. Reinha Rosari, SP-3 Wehea, Makmuar Jaya, Kung Beang

Selamat Menempuh Hidup Baru Untuk Lawing dan Ivo


Bertempat di Gereja Katolik Stasi St. Reinha Rosari, SP-3 Wehea, Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kung Beang, Kutai Timur dilaksanakan penerimaan Sakramen Pernikahan bagi pasangan Lawing dari Desa Suka Maju dan Ivo dari Desa Makmur Jaya.
Pasangan Mempelai Lawing dan Ivo sekeluar dari Gereja Stasi Reinha Rosari
Pemberkatan Nikah dilakukan oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD, selaku Pastor Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur dan dihadiri oleh segenap umat dari Stasi St. Reinha Rosari  dan St. Fransiskus Assisi, SP-5 Wehea (Suka Maju) serta keluarga besar kedua mempelai. 
Pasangan Mempelai Lawing dan Ivo diterima dalam adat Sikka-Flores di rumah Mempelai Perempuan
Prosesi pemberkatan nikah bagi kedua pasangan tersebut berlangsung meriah dan dibalut dalam khasanah budaya yang berbeda dari kedua mempelai tersebut.
Tangis Kebahagian dari Mempelai Perempuan (IVO)
Sebelumnya, pada awal Juni 2014, di Stasi Reinha Rosari juga telah dilaksanakan prosesi pernikahan massal bagi 20 pasangan dari 74 pasangan yang akan menikah dan masuk dalam program nikah massal di stasi tersebut.
Pasangan Mempelai Lawing dan Ivo


Gabriel Manek, Ketua Stasi Reinha Rosari tidak dapat menyembunyikan rasa gembira dan bahagia yang luar biasa atas dilangsungkannya pernikahan bagi saudara Lawing dan Ivo. Sebagai Ketua Stasi, Bapak Gabriel Manek bersama kedua mempelai serta para tokoh umat dan keluarga besar kedua mempelai terlibat aktif dalam persiapan prosesi pernikahan bagi kedua pasangan tersebut sembari mengungkapkan harapannya agar apa yang telah menjadi rencana stasi dapat terealisasi.

Pasangan Mempelai Lawing dan Ivo
Pasca pemberkatan nikah, kedua mempelai langsung dihantarkan secara adat Sikka (Maumere-Flores, NTT) menuju rumah mempelai perempuan (Ivo) dan selanjutnya kedua mempelai diterima secara adat Sikka oleh orang tua dan keluarga besar mempelai perempuan dan setelah itu dilanjutkan dengan resepsi bersama.
Pasangan Mempelai Lawing dan Ivo bersama Anggota Koor Reinha Rosari
Akhirnya selamat kepada Lawing dan Ivo untuk menjalankan hidup berkeluarga dan semoga apa yang telah dipersatukan Allah tidak diceraikan oleh manusia. Semoga.

Sabtu, 07 Juni 2014

WARTA PAROKI ST. MARIA RATU DAMAI NEHAS LIAH BING
KECAMATAN MUARA WEHEA, KUTAI TIMUR, KALTIM

Minggu, 08 Juni 2014


Selamat Pagi dan Selamat Hari Raya Pentekosta,

1.       KOMUNI PERTAMA
  •        Akan dilaksanakan Penerimaan Komuni Pertama pada tanggal 15 Juni 2014 di Stasi St. Fransiskus Assisi, SP-5, Desa Suka Maju oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD. 
  •          Akan dilaksanakan Penerimaan Komuni Pertama pada tanggal 22 Juni 2014 di Stasi St. Martinus, SP-1 Pantun, Desa Karya Bhakti dan sebelumnya pada tanggal 21 Juni 2014 akan dilaksanakan Pengakuan Dosa bagi anak-anak komuni pertama pada tanggal 21 Juni 2014 oleh Pater Adi Manek, SVD.

2.       PERNIKAHAN
  •        Pada tanggal 10 Juni 2014 akan dilaksanakan Kanonik di pusat paroki untuk pasangan yang akan menikah dari Stasi St. Ignasius Loyola Gunta Samba dan Stasi St. Paulus Dea Beq dan penerimaan Sakramen Pernikahan kepada para pasangan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2014 oleh Pater Adi Manek, SVD.
  •         Pada tanggal 25-26 Juni 2014 dilaksanakan Kanonik bagi pasangan yang akan menikah dari Stasi St. Petrus Bea Nehas, Stasi St. Markus Diaq Lay dan Stasi St. Getrudis DSN Agro dan penerimaan Sakramen Nikah bagi para pasangan dari ketiga stasi tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2014 pukul 16.00 wita (jam 4 sore).

3.       PELEPASAN SISWA/I TK. ST. ARNOLDUS JANSEN
  •        Pada tanggal 11 Juni 2014 akan dilaksanakan Misa Syukur  dalam rangka pelepasan bagi anak-anak TK St. Arnoldus Jansen Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur.

4.       Tahun Orientasi Pastoral (TOP) Frater Arki di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing:
a.       
             Bahwa pada tanggal 20 Juni 2014 masa TOP Fr. Arki akan berakhir di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing       dan untuk itu akan dilaksanakan tourney oleh Frater Arki, SVD dengan jadwal sebagai berikut:
1)       Tanggal 9 – 12 Juni 2014 tourney di Stasi SP-3 dan SP-5 Wahau serta SP-1 dan SP-5 Pantun
2)       Tanggal 13 Juni 2014 tourney di Astra
3)       Tanggal 14 Juni 2014 tourney di Stasi St. Ignasius Loyola Gunta Samba
4)       Tanggal 16 – 18 Juni 2014 tourney di Stasi Long Segar, Batu Ampar dan Mawai

5.       Persembahan umat untuk DANA KEMANDIRIAN PAROKI:

Disampaikan kembali kepada seluruh umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, bahwa penggalangan dan/atau persembahan untuk Dana Kemandirian Paroki kembali dilaksanakan pada tahun 2014, terhitung sejak periode Januari 2014 dengan rincian sebagai berikut:
  •         Masing-masing Kepala Keluarga (KK) sebesar Rp. 30.000,- / KK / Tahun
  •     Persembahan dan/atau kontribusi kepada Biara Sanctissima Trinitas (para Suster SSpS) dalam rangka   mendukung Karya dan Pelayanan para Suster sebesar Rp. 500.000,- / Stasi / Tahun
  •       Sesuai dengan usulan umat, bahwa untuk Dana Paroki Mandiri per Kepala Keluarga, pihak DPP akan         menyiapkan Kartu Iuran Dana Mandiri dan selanjutnya akan didistribusikan ke seluruh stasi.


6.    RENCANA PEMBANGUNAN & PENGEMBANGAN PAROKI SANTA MARIA RATU DAMAI NEHAS LIAH BING

Terkait dengan Hasil Keputusan Pleno Dewan Pastoral Paroki (DPP) Tahun 2014 bahwa akan dilaksanakan pembangunan fisik di pusat paroki dengan beberapa rencana, sebagai berikut:
  • Pembangunan Menara Patung Bunda Maria dan Taman di Kompleks Gereja
  • Pembangunan Teras Pastoran
  • Pembangunan Kantor Paroki dan Sekretariat KOMKA (serta: Ruang Meeting Paroki) – rencana 2 lantai (LT-1 untuk kantor paroki, sekertariat KOMKA, ruang tamu/lobby, kamar koster dan kamar assisten rumah tangga pastoran, sedangkan LT-2 direncanakan untuk ruang meeting paroki)
  • Pembangunan Wisma Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing yang terletak di belakang Pastoran Paroki.
Bahwa dari rencana tersebut diatas akan dilaksanakan kembali dan diharapkan telah ada yang selesai pada tahun 2014 dan secara keseluruhan diharapkan dapat selesai pada tahun 2015.

Oleh karena itu, kami mengajak seluruh umat paroki untuk dapat berpartisipasi aktif dalam upaya untuk merealisasikan rencana tersebut dan DPP menerima saran dan masukan serta sumbangan dalam bentuk material dan dana dan bagi umat yang ingin terlibat agar dapat menyampaikan kepada DPP atau Pastor Paroki dan tidak lupa disampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Tlea dan Ibu Yung atas sumbangan 3 rit batu gunung untuk pembuatan fondasi kantor paroki.

7.       CUTI SUSTER
  • Disampaikan kembali kepada seluruh umat bahwa Sr. Caroline, SSpS dan Sr. Inez, SSpS akan berangkat cuti pada tanggal 14 Juni 2014 dan akan kembali pada akhir Juli 2014. Bahwa hal-hal terkait dengan urusan-urusan yang melibatkan kedua suster tersebut dapat dilaksanakan kembali sekembalinya Sr. Caroline, SSpS dan Sr. Inez, SSpS dari liburan, sedangkan Sr. Hermine, SSpS akan tetap berada di wilayah paroki.


8.       TERIMA KASIH
  • Ucapan terima kasih kepada Segenap petugas liturgi, para misdinar dan seluruh anggota koor dari Stasi St. Reinha Rosari SP-3 Wahau.

9.       PETUGAS LITURGI (Minggu, 05/06/2014):
  • Petugas Liturgi untuk Hari Raya Pentekosta pada Minggu, 08 Juni 2014 ditanggung oleh Stasi St. Fransiskus Assisi SP-5 Wahau untuk itu disampaikan kepada segenap pengurus stasi agar dapat mempersiapkan liturgi dengan baik dan diharapkan juga dapat menyiapkan dekorasi gereja pada Sabtu, 04 Juni 2014.

10.    TAMBAHAN - WARTA PAROKI
  • Dalam rangka membangun sistem administrasi yang transparan, maka Pastor Paroki dan DPP St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing sepakat untuk mendorong proses tersebut termasuk menyampaikan segala dinamika yang terjadi dalam wilayah paroki termasuk sistem administrasi dalam Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing baik melalui warta paroki setiap minggu maupun yang ditempelkan di papan informasi paroki serta kedepan akan disampaikan juga melalui blog paroki.
  • Kembali dihimbau kepada seluruh umat bahwa dengan keterbatasan petugas kebersihan yang ada di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing maka diharapkan kepada segenap umat untuk dapat terlibat menjaga kebersihan Gereja dan lingkungan sekitar gereja, terutama setelah selesainya Misa atau ibadah lainnya di Gereja St. Maria Ratu Damai dan kami mengharapkan agar sampah bekas makanan, tissue, dll, agar dapat dikantongi dan dibuang di tempat sampah yang disediakan di depan gereja serta kepada umat agar berpartisipasi untuk membantu membersihkan gereja paskah Misa.
  • Bagi umat yang ingin mendapatkan informasi tentang dinamika Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing dapat mengikuti melalui:
1)       Facebook    : Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing
2)       Blog               : santamariaratudamai.blogspot.com


Demikian Warta Paroki pada hari ini, terima kasih.

Nehas Liah Bing, 08 Juni 2014
Ttd.
DPP St. Maria Ratu Damai

Sabtu, 24 Mei 2014

WEHEA, Sebuah Tantangan dalam mengejar Ketertinggalan SDM...

Sebuah Catatan Tentang Suku Dayak WEHEA
Sabtu (24/05/14)

Menyebut WEHEA pada sekian tahun lampau tentulah terasa sangat asing. Nama apa lagi ini? Apakah ini sebuah komunitas baru yang karena situasi tertentu kemudian dimunculkan, atau sebenarnya memang benar-benar telah ada sejak perpuluh tahun atau telah ada sejak berabad lampau.

WEHEA, sebuah nama yang sangat asing yang kemudian muncul ke permukaan, mengapung setelah lama tenggelam atau terbenam ke dasar informasi sehingga tidak pernah muncul atau diketahui public.

Mengingat WEHEA tentunya tidaklah sulit, sebuah nama dari sebuah komunitas masyarakat hukum adat yang masih ada dan hidup ditengah masyarakat yang saat ini semakin homogeny, hanya lima huruf dan tentunya yang luar biasa adalah setelah lama tenggelam, nama itu begitu semarak disebutkan dalam beberapa tahun terakhir.

Disebut karena kearifan tradisional yang mereka miliki dalam beragam aturan-aturan adatnya, dalam ragam ritualnya yang menarik dan exotis dan juga diingat karena ketertinggalan yang dialami mereka.

Mengutip barisan terakhir pada kalimat diatas, sebuah Tanya patut dialamatkan kepada seluruh masyarakat hukum adat WEHEA mengapa mereka tertinggal? Mengapa? Dan Mengapa?

WEHEA, nama itu kini tidak asing lagi. Sebuah sejarah baru ditegakan, bersamaan dengan pendeklarasian secara adat melalui sebuah ritual suci dalam sebuah sumpah adat yang dilaksanakan ditengah rimba yang akhirnya dinamai dengan nama suku mereka, telah membuka tabir hidup dalam sebuah balutan kearifan yang lama tersimpan, bahwa mereka sebenarnya lekat dengan wilayah ini, lekat dengan segala kekayaan yang tersimpan didalamnya, lekat dengan masa lalu dan satu hal yang menjadi ironi dari kesemuanya itu adalah lekat dengan ketertinggalan.

Menyebut WEHEA, benar bahwa mereka erat dengan ketertinggalan dalam beragam aspek kehidupan. Ketertinggalan dalam hal ini perlu ditegaskan bukan karena kesetiaan mereka akan tradisi warisan leluhur mereka dengan ragam kekayaan tradisi serta kearifan tradisional yang mereka miliki, yang coba diungkap disini adalah ketertinggalan mereka akan beragam aspek dan salah satu hal penting yang perlu kami tekankan disini adalah aspek sumberdaya manusia.

Mengapa aspek ini menjadi penting? SDM bak musuh yang terus menghantui setiap insan WEHEA, sejak masa lalu, saat ini dan dimasa depan. Mengapa? Karena membandingkan masyarakat hukum adat WEHEA dengan beragam masyarakat lainnya di wilayah ini, dalam wilayah komunal (wilayah adat) mereka yang tersebar mulai dari wilayah perbatasan dengan Kampung Merapun di Kabupaten Berau hingga ke wilayah KEHAM yang berbatasan dengan Batu Ampar di bagian hilir, membandingkannya dan kita menemukan sebuah fakta menyedihkan bagaikan bumi dengan langit.

Kembali mengungkap fakta, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Beberapa sumber lisan mengungkap bahwa terdapat sebuah scenario besar yang memang menginginkan hal tersebut terjadi. Alam mereka boleh kaya, tetapi SDM mereka jangan sampai luar biasa, agar mudah untuk ditundukan. Itulah ungkapan yang pernah didapatkan dan melihat hal tersebut kita perlu berbalik pada periode kelam disekitar dekade 1970-an.

Saat awal masuknya investasi di wilayah tersebut, tepatnya saat beroperasinya PT. AVDECO, sebuah perusahaan perkayuan (HPH), mereka hanya dimasukan pada kelas pekerja khusus untuk mengupas kulit kayu. Tidak lebih dan tidak kurang. Pada perjalanan selanjutnya, sedikit naik kelas, mulai ada warga WEHEA yang akhirnya menjadi tenaga administrasi dan lain-lain. Mengapa ini terjadi? Seorang mantan pekerja pada tahun 1980-an menuturkan bahwa pada saat itu sangat sulit untuk mencari orang-orang Dayak WEHEA yang sekolah tinggi, yah, minimal lulus SMP atau SMA., sehingga akhirnya perusahaan lebih cenderung menerima warga lainnya, baik lokal maupun dari luar daerah yang bukan WEHEA.

Menilik kembali sebuah cerita lama, dimana seorang pejabat secara “kasar” dilengserkan dari jabatannya karena nekad untuk membangun sekolah pada wilayah-wilayah komunitas termasuk desa-desa dalam komunitas WEHEA. Sebuah tragedi itu terjadi pada awal dekade 1980-an yang akhirnya pasca diresmikannya sekolah dasar yang salah satunya berada di Nehas Liah Bing, pejabat bersangkutan benar-benar dilengserkan dari jabatannya dan diganti justru oleh krooni petinggi yang ternyata sangat tidak pro poor dan tidak pro komunitas lokal.

Menurut beberapa cendekia lainnya disampaikan bahwa pada masa itu, terjadi sebuah “pertempuran politik” lokal yang sangat kental bernuansa kedaerahan, dimana terdapat kelompok masyarakat lokal lainnya yang secara SDM sudah sangat baik hingga menguasai berbagai instansi strategis yang memang sangat tidak menginginkan manusia-manusia komunitas lokal seperti Dayak WEHEA untuk menjadi orang atau manusia pintar, agar mereka gampang untuk menipu dan/atau membodohi para manusia dari komunitas lokal tersebut yang sebenarnya adalah benar-benar pemilik dan yang empuhnya wilayah ini.

Sejarah dan fakta diputarbalikan dengan begitu gambling seolah merekalah pemilik wilayah ini, yang dengan kekayaan SDM-nya telah mengobrak-abrik dan menghancurkan sebuah tatanan sistem yang ada di wilayah ini pada masa lalu hingga akhirnya, deklarasi Hutan Lindung WEHEA seolah menjadi gong pembuka dan awal perjalanan Komunitas Dayak WEHEA untuk bangkit dan berjuang merebut kembali apa yang mereka miliki, sekaligus berjuang untuk mengejar segala ketertinggalan yang mereka alami.

Keberadaan beberapa organisasi non pemerintah seperti The Nature Conservancy dan World Education sejak pertengahan tahun 2000-an telah membangkitkan sebuah spirit baru, terutama dalam upaya untuk membantu mengkampanyekan keberadaan dan eksistensi masyarakat hukum adat WEHEA serta juga berupaya tentunya dengan penuh tantangan dalam mengejar ketertinggalan bagi masyarakat komunitas terutama dalam aspek pendidikan.

Sebuah niat baik dan tulus tentunya akan mendapatkan dukungan dari beragam pihak, yang akhirnya juga turut didukung oleh berbagai stake holders lainnya di wilayah ini seperti pihak ketiga atau perusahaan untuk membantu mendorong serta meningkatkan kualitas SDM masyarakat WEHEA.

Tetapi sebuah pertanyaan lain juga patut dikemukan. Apakah dukungan lembaga-lembaga seperti LSM (ornop) serta pihak perusahaan akan berhasil? Tentu perlu ditunggu hasilnya, karena keberhasilan untuk membangun SDM WEHEA bukan hanya datang dari pihak luar tetapi juga harus menjadi sebuah komitmen bersama dari seluruh masyarakat adat WEHEA. Hal tersebut menjadi sangat penting, karena mengingat perjalanan komunitas ini begitu lama telah terombang-ambing dalam sebuah bahtera ketidakpastian akibat dikotomi atau pengkotakan yang telah mereka alami dimasa lalu.

Ledjie Taq, seorang tokoh masyarakat WEHEA yang juga merupakan Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing menuturkan bahwa dahulu, mereka harus bisa berenang dulu baru bisa sekolah, jika tidak, mereka akan tetap terus menjadi manusia buta huruf. Mengapa? Karena sekolah hanya khusus dibangun untuk warga diseberang kampung Nehas Liah Bing, sedangkan disini memang sengaja tidak dibangun sekolah, jadi apakah itu bukan sebuah upaya pembodohan yang sistematis? Tanya Ledjie Taq.

Menyimak kalimat diatas, jika tidak ingin terlambat, adalah kini saatnya para manusia WEHEA untuk bahu membahu mengejar ketertinggalan terutama dari aspek SDM mereka, untuk dapat setara dengan masyarakat lainnya minimal di wilayah ini agar kelak dapat bersaing ditengah pusaran kemajuan global.

Sudah saatnya mulai didoktrin tentang pentingnya pendidikan dan itu harus dibangun dari dalam sel terkecil yaitu keluarga. Orang tua harus berani dan tegas kepada anak-anaknya agar berusaha bersama dalam upaya membangun dan meningkatkan pendidikan, setelah itu masyarakat serta lingkungan juga harus bisa memberikan pengaruh-pengaruh positif kepada anak-anak usia sekolah karena jika tidak, mereka juga akan terjerumus pada sebuah jurang yang sama, yaitu jurang kebodohan.

Pada sisi lainnya, peran para leader atau pemimpin desa, mulai dari lembaga adat, pemerintah desa, BPD, organisasi pemuda serta tokoh-tokoh masyarakat harus dapat seia sekata untuk mengatakan TIDAK pada kebodohan dan ketertinggalan SDM dan mereka harus menjadi aktor-aktor kunci untuk menjadi pelecut bagi anak-anak dan generasi muda agar bersama membangun dan mengejar ketertinggalan SDM.

Bagian terakhirnya adalah sekolah. Sebuah praktek “pembodohan” yang pernah diterapkan harus dibasmi hingga ke akar-akarnya, sehingga sekolah yang datang jam 8 dan pulang jam 11 tidak boleh terjadi lagi di BUMI WEHEA, karena itu adalah sebuah contoh dari upaya pembodohan yang secara sistematis sengaja dilakukan agar anak-anak WEHEA tetap bodoh dan tertinggal. Jika kedisiplinan anak-anak untuk bersekolah menjadi persoalan, insan sekolah sudah seharusnya menggandeng orang tua, lembaga adat, pemerintah desa, BPD dan tokoh-tokoh masyarakat untuk segera mengatasi dan mencari solusinya, sehingga pola belajar 8-11 yang terjadi dapat dihilangkan.

Pada aspek lainnya, Lembaga Adat harus berani secara tegas untuk membangun sebuah consensus bersama masyarakat agar dapat memberikan sanksi seberat-beratnya kepada para orang tua yang tidak serius mendukung upaya meningkatkan pendidikan masyarakat WEHEA, karena jika “luka” dibadannya sendiri tidak disembuhkan maka alangkah sulitnya untuk maju mengejar ketertinggalan itu.

Disaat ini, sebuah ketegasan dari orang tua dan masyarakatnya sangat diperlukan untuk segera menghentikan pembiaran-pembiaran agar tidak terjadi lagi anak-anak yang gagal bersekolah karena terjadi kecelakaan akibat pergaulan bebas dengan hamil diluar nikah, terjerumus ancaman narkoba dan lain-lain. Sekali lagi, bahwa perlu ada ketegasan yang harus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat komunitas Dayak WEHEA agar SDM tidak hanya menjadi jargon semata tetapi benar-benar menjadi sebuah spirit bersama untuk menata kembali kehidupan masyarakat WEHEA dalam mengejar ketertinggalannya terutama terkait dengan pendidikan, sehingga mimpi dan harapan agar kelak sumberdaya manusia WEHEA maju tidak hanya menjadi slogan-slogan kosong tetapi benar-benar menjadi nyata.

Akhirnya kepada para manusia-manusia WEHEA yang mungkin telah sukses, baik sebagai Dosen di Samarinda, maupun para mahasiswa-mahasiswi yang saat ini tersebar di Sangatta, Samarinda, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta, kalian adalah awal dan pembuka jalan, kembalilah untuk membangun komunitas kalian dan janganlah tidur ketika kalian berlibur ke kampung halaman kalian dan mulailah untuk membangun hal-hal positif agar mimpi akan kesetaraan dapat kalian gapai. Semoga…..

Jumat, 23 Mei 2014

Lima Orang Pelajar dari Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing Ikuti Tes Masuk di SMP dan SMA St. Fransiskus Assisi Samarinda

Kabar Paroki

Sabtu (24/05/14)


Didampingi oleh Pater Lucius Tumanggor, SVD selaku Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim, lima orang pelajar dari wilayah paroki mengikuti tes masuk sekolah di SMP dan SMA St. Fransiskus Assisi Samarinda, Kalimantan Timur.

Ada lima anak yang kami utus dari Paroki St. Maria Ratu Damai, Nehas Liah Bing untuk melanjutkan pendidikan di sekolah St. Fransiskus Assisi, Samarinda dan masuk asrama untuk tahun ini dan dari kelima anak tersebut adalah empat orang untuk SMAK (Alvin, Dinda, Gita dan Lala) serta seorang lagi adalah Quintus yang akan masuk SMPK, namun sebelumnya, Lidwina sudah lebih dahulu mengikuti pendidikan di tempat ini, sampai sekarang masih giat mengenyam pendidikan yang diasuh oleh para Suster FSE ini, tutur Pater Lucius Tumanggor, SVD.

Ditambahkan Pater Lucius, SVD, bahwa masih terdapat beberapa orang siswa yang berasal dari Paroki Santa Maria yang juga bersekolah di SMAK St. Fransiskus Assisi, diantaranya Ying dari Stasi Dea Beq dan Merry Radja dari Nehas Liah Bing serta satu harapan kami semoga mereka betah dan mau belajar dengan sungguh sungguh dan semoga anak anak dayak Wehea semakin minat untuk bersekolah dan haus untuk belajar dalam meretas jalan menuju sukses.

Salam beberapa tahun ini, Gereja Katolik terus berupaya melakukan kampanye pendidikan terutama dalam wilayah paroki yang tersebar di empat kecamatan, diantaranya di Kecamatan Muara Wehea, Kung Beang, Telen dan Batu Ampar.

Hal tersebut dilakukan mengingat rendahnya tingkat pendidikan di wilayah tersebut dan berharap dimasa depan aka nada yayasan yang benar-benar serius ingin membangun dan mengembangkan sekolah berkualitas di wilayah ini sehingga warga dari keempat wilayah tersebut tidak perlu jauh-jauh ke Sangatta atau Samarinda untuk mengenyam pendidikan berkualitas, ungkap Pater Lucius Tumanggor, SVD.

Pasca tes yang dilalui oleh kelima orang siswa di Samarinda, Pater Lucius Tumanggor, SVD, juga menyerukan kepada seluruh masyarakat dan insan pendidikan di wilayah Kecamatan Muara Wehea dan Kung Beang khususnya untuk bahu-membahu mendorong kemajuan pendidikan di wilayah tersebut karena begitu dalamnya jurang kualitas pendidikan di wilayah ini jika dibandingkan dengan yang ada diperkotaan. Ini adalah tantangan bagi kita semua dan kami dari Gereja Katolik juga akan terus berupaya agar dapat tersedia sekolah berkualitas di wilayah ini, tambah Pater Lucius.


Semoga mimpi dan harapan disertai doa dan upaya secara terus menerus akan memberikan panenan melimpah dimasa mendatang (adm).

Perkembangan Pembangunan di Paroki Santa Maria Ratu Damai

Kabar Paroki

Sabtu (24/05/14)


Terkait dengan rencana pembangunan di Pusat Paroki Santa Maria Ratu Damai sesuai dengan amanat Pleno DPP Tahun 2014 telah mulai dilaksanakan, demikian seperti yang terlihat di pusat paroki hingga jelang akhir periode Mei 2014.

Pada tahap pertama telah dilakukan pemasangan fondasi untuk menara Patung Bunda Maria Ratu Damai yang merupakan persembahan seorang donatur dari Jakarta dan untuk pembangunannya dikoordinir oleh beberapa relawan di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing.

Sesuai dengan rencana, diharapkan bahwa pada periode Juli 2014, telah dilakukan pemasangan Patung Bunda Maria pada puncak menara, yang kemudian akan dilanjutkan dengan pembangunan taman dan kolam pada menara yang tepat berada di halaman depan gereja paroki.

Menurut Chris Djoka yang ditunjuk untuk menjadi coordinator menara Bunda Maria serta pembangunan taman gereja di pusat paroki, bahwa pada saat ini sedang dilakukan penanaman dan penataan pohon serta tata letak untuk taman yang diperkirakan akan selesai sebelum Perayaan Natal 2014. Kita harapkan menara Bunda Maria beserta taman gereja akan menjadi kado indah bagi seluruh umat dalam Natal mendatang, tutur Chris.

Pada kesempatan yang berbeda, Pater Lucius Tumanggor, SVD, selaku pastor paroki mengungkapkan bahwa pasca pembangunan menara Bunda Maria di halaman depan gereja akan dilanjutkan dengan pembangunan teras pastoran dan kantor paroki yang dilengkapi dengan beberapa ruang tambahan diantaranya kamar koster, secretariat KOMKA serta lobby/ruang tamu dan sebuah kamar tambahan bagi tamu yang menginap.

Kita berharap agar dari ketiga rencana besar tersebut ada progress yang terus dicapai sebelum Perayaan Natal 2014, karena ini adalah tindak lanjut dari program yang telah ada sejak tahun 2013 dan belum dapat kita laksanakan karena ketiadaan dana, ujar Pater Lucius Tumanggor, SVD.

Terkait dengan pembangunan menara Bunda Maria Ratu Damai diperkirakan akan selesai sebelum akhir Mei 2014, sehingga tahapan lanjut berupa pembangunan kolam, jalan setapak, kursi taman dan lain-lain dapat segera dilaksanakan.

Untuk menyukseskan beragam rencana tersebut, bersama beberapa relawan dan para karyawan Katolik yang tersebar di beberapa perusahaan telah mengupayakan untuk dilakukan penggalangan dana untuk merealisasikan rencana-rencana tersebut diatas.


Maxi Adifan, salah seorang relawan bersama Joko Pramono mengungkapkan bahwa kedepan diperlukan peran umat termasuk para karyawan Katolik yang tersebar di berbagai perusahaan dalam wilayah paroki, baik yang berada di Kecamatan Muara Wehea, Kung Beang, Batu Ampar serta Kecamatan Telen dan sebagai langkah lanjutan telah “mendeklarasikan” (secara lisan) upaya pembentukan Persatuan Karyawan Katolik Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing yang juga telah disetujui oleh Pastor Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Semoga…….

Kamis, 15 Mei 2014

Para Karyawan Katolik Siap Galang Dana untuk Pembangunan di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing

Para Karyawan Katolik Galang Dana Untuk Pembangunan Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur

Kabar Paroki
Kamis (15/05/14)


Bertempat di Pastoran Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, Wehea, Kutai Timur, Kaltim, dilakukan diskusi yang melibatkan beberapa orang umat yang bekerja di beberapa perusahaan yang tersebar di wilayah Kecamatan Muara Wehea dan Kung Beang dalam rangka melakukan penggalangan dana untuk pengembangan paroki.

Maxi dan Joko Pramono dari PT. DSN yang turut hadir dalam diskusi tersebut turut mendukung rencana tersebut dan mengharapkan keterlibatan dari karyawan Katolik yang tersebar pada beberapa perusahaan dalam wilayah paroki.

Sesuai dengan rencana, upaya penggalangan dana untuk pengembangan paroki tersebut akan dimulai pada periode Mei 2014. Dengan keterbatasan dana untuk pengembangan dan pembangunan di Paroki Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, menurut Siang Geah, Sekretaris Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Ratu Damai, maka DPP bersama Pastor Paroki mengharapkan peran dan keterlibatan semua umat termasuk para Karyawan Katolik yang tersebar di beberapa perusahaan, baik di wilayah Kecamatan Muara Wehea maupun Kung Beang serta di Kecamatan Telen dan Batu Ampar.

Pada tahun 2014, sesuai dengan amanat dalam Pleno DPP Santa Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing telah diputuskan untuk meneruskan rencana yang tertunda pada tahun 2013, yaitu pembangunan Kantor Paroki dan Sekretariat KOMKA serta ruang Koster dan Teras Pastoran serta Menara Patung Bunda Maria di depan gereja. Selain itu, untuk pembangunan wisma paroki di belakang pastoran tetap akan diupayakan untuk dapat dilaksanakan pada tahun 2014. Minimal ada progress dari seluruh rencana yang telah disusun dan semoga hal tersebut juga didukung oleh seluruh umat, tandas Pater Lucius Tumanggor, SVD (adm).